RT - readtimes.id

Banjir TKA di Pusat Smelter ?

Readtimes.id– Menyaksikan gelombang protes kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA) China di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat belum lama ini, bak menonton film yang sama dengan akhir bisa ditebak. 

Pertama, masyarakat akan protes terkait kedatangan TKA di Tanah Air, lalu setelah itu perusahaan memberikan klarifikasi hingga pemerintah memaklumi dan akhirnya memberi izin hingga masa kontrak selesai, dan begitu juga yang terjadi di tahun-tahun berikutnya. 

Tercatat sudah beberapa kali dalam tahap pembangunan proyek smelter Indonesia selalu  mengundang TKA. Di antaranya pembangunan smelter nikel di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara di bawah naungan PT Virtue Dragon Industri. Demikian juga di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park Halmahera, Maluku Utara, PT Huadi Nickel-Alloy di Bantaeng, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah dan sebagainya. 

Alasan penggunaan TKA antar perusahaan pun tidak jauh berbeda, yakni kapasitas dan produktivitas tenaga kerja Indonesia dianggap belum memenuhi standar. Terlebih di awal pembangunan proyek smelter, seperti yang diungkap Dedy Kurniawan, Koordinator Humas dan Media Relation IMIP kepada readtimes.id. 

Penggunaan  teknologi  seperti RKEF (Rotary Kiln-Electric Furnace) dari China saat pembangunan smelter dan bahasa pengoperasian alat yang masih menggunakan bahasa China menjadi alasan perusahaan memilih menggunakan TKA. Tujuannya untuk mempercepat pengerjaan proyek smelter dan penekanan biaya produksi. 

Bahkan tidak berhenti di situ, saat smelter beroperasi pun pihaknya masih bergantung pada keberadaan  TKA untuk menduduki posisi engineering. 

“Kami masih mempertahankan mereka karena masyarakat kita belum sepenuhnya siap untuk  mengoperasikan teknologi  yang ada. Tapi  kalau alih pengetahuan dan teknologi itu sudah bisa diterima  oleh tenaga kerja Indonesia, kami akan lepas TKA,” terangnya lewat sambungan telepon. 

Saat ini jumlah TKA yang dipekerjakan IMIP menurut data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Morowali ada sekitar 6.103 orang. Jumlah ini meningkat dari tahun 2018 yang hanya berkisar 3.121 TKA. 

Pengembangan perusahaan berupa penambahan pabrik serta PLTU membuat kebutuhan tenaga kerja asing tidak lagi dapat terhindarkan. Sehingga, tidak heran jika IMIP tercatat sebagai perusahaan yang mempekerjakan TKA terbanyak di Kabupaten Morowali. 

Hal ini dapat dilihat dari data terbaru jumlah TKA Morowali mencapai 6.301 orang, dimana tersebar di beberapa perusahaan seperti IMIP sebanyak 6.103 TKA, PT.WANXIANG berjumlah 86 TKA dan sejumlah perusahaan lainnya. 

“Kalau di data aplikasi rata-rata bekerja sebagai mechanical engineer, electrical engineer, technical engineer, production engineer, mechanical advisor, clectrical advisor dan jabatan spesialis Lainnya, ” terang Abdurrahman Toppo, Kepala Disnakertrans Morowali  kepada readtimes.id. 

Pihaknya menjelaskan selain jabatan spesialis seperti direktur, investor, lokasi pekerjaan para spesialis TKA ini ada di Morowali. 

Kendati tercatat sebagai perusahaan yang mempekerjakan TKA paling banyak, IMIP menolak disebut sebagai  perusahaan yang tidak memberdayakan masyarakat setempat dalam proses rekrutmen tenaga kerja. 

“Dari 40 ribu tenaga kerja yang kami rekrut langsung itu 46 persennya orang Morowali, ” terang Dedy. 

Untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja di Morowali, pihaknya  mengaku telah menggagas program pendidikan vokasi bersama Kementerian Perindustrian melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) yakni Politeknik Industri Logam Morowali dengan (tiga) prodi yaitu: Teknik Kimia Mineral, Teknik Listrik dan Instalasi serta Teknik Perawatan Mesin.

Avatar

Ona Mariani

2 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: