RT - readtimes.id

Film The Platform dan Kritik Kesenjangan Sosial

Readtimes.id– “Ada tiga tipe manusia. Mereka yang di atas, mereka yang di bawah dan mereka yang jatuh,” film The Platform.

The Platform secara gamblang menyajikan cerita tentang kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Bertempat di sebuah penjara yang lebih pantas disebut menara, ia memiliki sistem tersendiri. Layaknya sebuah menara, banguanan itu bertingkat, di setiap tingkat terdapat satu ruangan yang dihuni dua orang tahanan.

Suatu ketika Goreng (Iván Massagué), seorang narapidana baru terbangun di ruangan 48. Ia bertemu seorang laki-laki tua yang selanjutnya  dikenal sebagai Trimagasi (Zorion Eguileor). Dalam kondisi setengah sadar dan masih kebingungan, Goreng mendapat penjelasan sarkas dari Trimagasi akan situasi dan kondisi yang Goreng serta dirinya hadapi.

Di sanalah mereka berada di sebuah penjara yang tidak hanya berpenghuni narapidana. Penjara itu juga dihuni oleh mereka dengan satu tujuan atau mengikuti sebuah program. Goreng adalah golongan manusia yang merelakan dirinya dipenjara demi mendapatkan gelar diploma dari kampusnya.

Sebelum akhirnya mendekam, ia diberi kesempatan memilih satu barang untuk dibawa masuk dalam ruang tahanan. Ia memilih buku Don Quixote untuk menemaninya di dalam sana. Fakta itu kemudian menjadi sebuah ancaman bagi Trimagasi. Kebalikan dari Goreng, ia adalah seorang narapidana dengan tuduhan kasus pembunuhan. Ketakutan menghinggapi Trimagasi, ia membandingkan nasibnya dengan Goreng di masa depan.

Cerita mulai bergulir di sana. Kejadian-kejadian tak terduga membuat Goreng tersentak tak percaya. Sistem pembagian makanan berdasarkan tingkatan ruangan. Tingkatan atas melimpah kesempatan. Mereka bisa memakan makanan lebih banyak sementara yang di bawah, oh tentunya harus berusaha keras.

Ketika beruntung mereka bisa menikmati sajian tulang sisa dari atas dan jika tidak beruntung mungkin saliva sendiri tentu jadi pilihan terakhir.

Tidak begitu mengagetkan bila sewaktu-waktu ada jeritan menggema dari tingkatan bawah. Entah karena bangkitnya serigala dalam diri mereka atau hanya bosan terkurung dalam penjara kejam itu. Tidak ada yang tahu, sebab yang mereka tahu hanya bagaimana cara bertahan untuk hidup dan menunggu keberuntungan datang yang tidak tahu kapan.

Tapi, bukankah dalam sebuah ketidakadilan dan ketidakpastian serta ketakutan harus ada sosok pemberontak?

Sosok itu, samar-samar terlihat dari Goreng. Setiap kejanggalan yang ia temui justru mengguncang perasaannya. Jeritan kesakitan maupun kebosanan serta kabar kematian sungguh mengganggunya. Ia memang bertingkah serupa seorang idealis.

Namun, apakah ia mampu menyelesaikan urusannya tanpa menyimpan idealisme di kantong untuk sementara? Bukankah  kadang kala, terutama bagi mereka yang di bawah harus tunduk pada realita?

Tidakkah terlalu dini menyimpulkan jati diri seorang Goreng yang terbilang baru di penjara kejam itu. Temukan jawabannya di Netflix segera. Sebagai alarm, film ini tidak direkomendasikan bagi anak-anak sebab terdapat adegan kekerasan serta konten dewasa.

Disutradarai oleh Galder Gaztelu-Urrutia, The Platform berhasil menerima  Penghargaan Goya untuk Best Special Effects (Goya Award for Best Special Effects). Selamat menyaksikan.

Editor: Ramdha Mawaddha

Avatar

Ayu Ambarwati

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: