RT - readtimes.id

Mari Menua dengan Gembira

Judul : Menua dengan Gembira
Penulis : Andina Dwifatma
Penerbit : shira media
Tahun : cetakan 1, 2023
Tebal : x + 142 halaman

Saat kita menua, tubuh kita akan mengalami serangkaian proses perubahan: wajah dipenuhi noda hitam, bekas jerawat kian sulit hilang, kantung mata kian menggantung, dan sebagainya. Khususnya perempuan (lebih khusus lagi bagi yang pernah hamil dan melahirkan), perubahan ini akan kian mengkhawatirkan dan mereka akan menjadi insecure. Mereka akan berlindung pada sekian produk skincare yang menawarkan janji-janji dan melenyapkan ketakutan akan usia tua.

Persoalan ini direfleksikan oleh Andina Dwifatma dalam satu esai dalam buku kumpulan esai perdananya, “Menua dengan Gembira”. Didasarkan pada pengalamannya sendiri merawat diri pada usia jelang 40, Andina mengatakan sebuah kewajaran jika perempuan merawat diri. Tapi menjadi tidak masuk akal ketika perempuan termakan iklan produk kecantikan skincare yang menawarkan janji tidak realistis: kulit sebening kaca dan seperti artis Korea.

Bagi Andina, jelas ini akal-akalan promosi dagang. Yang terpenting, menurutnya, adalah perempuan perlu menyadari bahwa keadaan tubuh yang berubah adalah proses alamiah, “tanda bahwa kita telah melewati banyak hal dalam hidup.”(hlm 103). Dan di akhir esai Andina menyarankan, “Faktor U itu nyata adanya. Karena itu, hargailah bekas-bekas “perjuangan hidup” pada wajah Anda. Menualah dengan gembira”. (hlm 105).

Begitulah tema umur beserta segala ketakutannya diulik dengan penuh perenungan kritis oleh Andina Dwifatma. Perenungan kritis lainnya juga bertebaran di dalam esai-esainya yang lain dalam bukunya yang relatif tipis ini. Tema-temanya pun beragam, mulai dari persoalan remeh temeh seperti urusan mengasuh anak di rumah (lengkap dengan model mendidik yang inklusif), mendengar curhatan teman sendiri akan pekerjaan, hidup bertetangga, hingga yang sedikit serius seperti perbincangan akan sastra, buku-buku, hingga film.

Yang menarik adalah sebagian esai di dalam buku ini ditulis sekaligus hasil refleksi terhadap masalah-masalah baru yang muncul pada era Covid-19. Untuk itu, jika kalian lupa kisah-kisah sedih dan menantang apa saja yang telah dilewati semasa Covid-19, bacalah buku ini. Kemungkinan paling besar akan banyak relate-nya dengan apa yang dikisahkan dalam beberapa esai di dalamnya: tentang suka duka WFH, tentang berita hoax yang tersebar di WhatsApp group keluarga yang ditelan mentah-mentah, tentang saling curiga kalau sudah terkena virus, dan sebagainya. Beberapa esai yang terkait dengan masa-masa Covid-19 adalah: “Sebungkus Cireng di Status WhatsApp”, Indahnya Group WhatsApp Keluarga”, Dokter Amin”, “WFH yang WTF”, dan lain-lain.

Atau bagi kalian yang merantau ke Jakarta dan tinggal di daerah pinggiran dan berjuang setiap hari dengan kemacetan lalu lintas, nampaknya buku ini akan sangat menghibur. Karena sebagian isinya tentang kesaksian penulisnya sendiri melewati kehidupan cukup keras di Jakarta, interaksinya dengan ragam masyarakat di sekitarnya, ‘keisengan’ penulisnya menghitung jumlah warung kopi yang menjamur di sepanjang jalan ke tempat kerjanya, dan sebagainya. Untuk itu, bacalah “Perkara Nama”, “Yang Terjepit dan Terdesak”, Ngopi Sepanjang Jalan”, “Yang Kalah Pindah Agama”, “Di Pasar Malam”, dan lain-lain.

Lalu ada juga beberapa esai yang mengulik fenomena kesusastraan atau dunia film. Bacalah “That Problem That Has No Name: Sastra dan Identitas Keseharian Perempuan”, Melongok Identitas Kaum Muda Kota Lewat Layar Kaca”, “Film, Televisi, dan Lelucon Jorok”, dan lain-lain. Biasanya, tema seperti ini berkaitan dengan tugas si penulis esai sendiri yang merupakan seorang dosen ilmu komunikasi pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Belum pula ketika menyangkut persoalan perempuan, ia kaitkan dengan dirinya yang merupakan seorang novelis perempuan yang pernah menulis tentang derita perempuan dalam salah satu novelnya. Andina sendiri merupakan pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (2013) dengan novelnya berjudul, “Semusim dan Semusim Lag.”

Dua puluh enam esai dalam buku ini serupa sahabat dekat kita yang menemani kita menyeruput kopi sembari berbagi kisah unik kepada kita. Semuanya dikemas dalam narasi sederhana namun tetap berupaya menarik makna tanpa terkesan dipaksakan. Ada esai yang membuat kita tersenyum tipis, ada yang mengundang tawa, ada yang menyentil pikir kritis kita, dan malah ada yang akan membuat kita terharu sedih.

Avatar

Dedy Ahmad Hermansyah

54 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: