RT - readtimes.id

Media Online yang Tak Kebal Virus

Readtimes.id – Aktivitas masyarakat selama pandemi terbatas. Selain himbauan social distancing dari pemerintah, juga kesadaran masyarakat untuk mencegah penyebaran virus makin luas. Aktifitas sosial kini banyak yang beralih ke digital. Ini juga salah satu alasan Koran Tempo menghentikan versi cetaknya dan beralih sepenuhnya ke koran digital per 1 Januari 2020.

Transformasi media cetak ke online bukanlah hal baru. Jauh sebelumnya, sejumlah media ternama juga beralih ke versi mode digital seiring perkembangan teknologi. Media versi online memang “unggul” hampir di semua sisi. Minim biaya produksi dan distribusi, space yang nyaris tak terbatas, maintenance mudah, beragam fitur dan jenis konten, mudah diakses, dan yang paling penting sebagian besar masih gratis.

Sayangnya, media online juga tak kebal virus. Jumlah pembaca media online selama pandemi sebenarnya meningkat derastis. Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wenseslaus Manggut, dalam survey terhadap 300 lebih anggota AMSI pada Juni 2020 lalu, mengatakan kenaikan pembaca selama pandemi mencapai 200 persen.

Tapi kenaikan itu tak berbanding lurus dengan pendapatan. Survey itu mengungkap pendapatan media online terutama media lolal daerah justru turun 30-40%. Sebagian besar yang mengalami penurunan itu adalah media yang bergantung pada pendapatan iklan dari pemda.

Mereka kehilangan 80% pendapatan iklan karena masa pandemi memaksa pemda lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk kesehatan dan bansos ketimbang beriklan.

Akibatnya, masih dari riset yang sama, 20% media online terpaksa memotong gaji karyawannya. 15% lainnya menunda pembayaran gaji dan tunjangan hari raya. Media yang merumahkan karyawannya juga sebanyak 15%.

Masalah pendapatan iklan media online ini adalah diskursus lama. Big Mobile, perusahaan periklanan asal Australia, menyebut kue iklan digital di Indonesia cuma 17% dari total keseluruhan belanja iklan tahun 2017, atau sebesar 2,8 juta dolar AS tahun sebelumnya. Sisanya diprediksi mengalir ke Google dan Facebook.

Artinya, iklan didominasi oleh dua raksasa Google dan Facebook, bukan media online. Saat ini, selain dengan 2 paltform itu, media online juga harus berbagi kie iklan dengan influencer yang wara wiri di Instagram dan Youtube. Jadi, jika bukan bagian dari konglomerasi media, sulit bagi media-media kecil untuk bertahan.

Apa yang harus dilakukan? Wenseslaus Manggut menyarankan media online perlu mencari sumber–sumber pendapatan lain. Dia mengusulkan perlu ada kolaborasi antara perusahaan media dengan perusahaan teknologi seperti Google atau Facebook. Saat ini Google telah memberi bantuan kepada puluhan media yang ada di Indonesia.

Selain itu, Oktober tahun lalu Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widiastuti menyiapkan anggaran 298 miliar rupiah yang sebagiannya bisa menjadi sumber pendapatan media. Pemerintah dan media bisa bekerja sama dalam penyebaran informasi terkait corona.

Masih banyak cara. Media online atau konvensional harus bertahan. Bukan semata-mata soal bisnis, melainkan tentang kebutuhan masyarakat akan informasi.

Avatar

Ona Mariani

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: