RT - readtimes.id

Memahami Sejarah Kediktatoran melalui Kisah Para Binatang

Judul : Negeri Binatang
Penulis : George Orwell
Penerbit : bentang
Tahun : Oktober 2012
Tebal : iv + 144 halaman

“Animal Farm”, novel tipis karangan George Orwell, telah menjadi pustaka klasik. Substansi novel ini melampaui maksud awal si penulisnya yang hendak mengkritik praktik Revolusi Rusia di bawah kekuasaan Stalin pada era 1930an. Novel tipis ini lantas menjadi rujukan banyak orang tentang bagaimana otoritarianisme atau sistem politik yang menindas itu lahir, kenapa watak jahat cenderung memanipulasi sejarah demi kepentingan kekuasaannya, dan sebagainya.

Kisah novel yang dikategorikan sebagai fabel politik ini menawarkan wacana genealogi kekuasaan manusia. Di dalam cerita yang didominasi karakter hewan ini kita dapat bercermin terhadap wajah kita sendiri sebagai manusia politik: berkhianat pada amanah kuasa, memperbudak sesama demi keuntungan kelas sendiri, dan memanipulasi realitas demi mempertahankan kekuasaan.

“Animal Farm” terbit pada 1945, kebetulan bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Dia mengisahkan tentang sekelompok binatang di ladang peternakan Pak Jones yang melancarkan aksi Pemberontakan melawan majikan mereka. Ide melawan kekuasaan Pak Jones ini dicetuskan oleh si tua Major, seekor babi berumur 12 tahun. Si tua Major dihormati dan dikenal bijak oleh banyak Binatang.

Ketika pada suatu hari Pemberontakan ini berhasil dengan relatif mudah, Pak Jones dan istrinya serta beberapa pekerjanya terusir, dan dimulailah ladang luas milik Pak Jones dikelola oleh para binatang ini. Dengan dipimpin oleh Snowball dan Napoleon—sama-sama berasal dari bangsa babi—bangsa binatang mulai menyusun dan menata hidup mereka dengan sistem yang berbeda sama sekali yang pernah diberlakukan oleh majikan mereka sebelumnya.

Mereka menciptakan semacam sistem filsafat kehidupan mereka yang diberi nama BINATANGISME. Sistem ini berisi tujuh perintah: apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh; apapun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman; tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian; tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang; tak seekor binatang pun boleh minum alcohol; tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain; semua binatang setara.

Tujuh perintah tersebut dirumuskan oleh Snowball dan Napoleon, menjadi pedoman yang sekaligus identitas mereka sebagai binatang yang memerintah diri mereka sendiri. Namun, sebagai bangsa yang baru saja merdeka, tentu saja tujuh perintah tersebut perlu diperkenalkan dalam bentuk doktrinasi kepada semua binatang. Jalan bagi sebagian binatang dalam memahami tujuh perintah tersebut rumit dan nyaris tak dipahami.

Namun kemudian perlahan-lahan kisah pasca pemberontakan ini mengarah kepada pengkhianatan dan manipulasi tujuh perintah tersebut. Napoleon berhasil menyingkirkan Snowball yang dihormati oleh binatang lain karena perannya dalam perang pemberontakan sangat besar. Napoleon mengusir pesaingnya tersebut dengan kasar, lalu menciptakan fitnah-fitnah terhadap Snowball: difitnah sebagai penyusup, kaki tangan manusia, dan hendak menggagalkan cita-cita bangsa binatang agar merdeka dari penindasan.

Saat konflik ini kian terang, lampu sorot kisah novel ini mulai mengarah kepada sepak terjang Napoleon dalam mempertahankan kekuasaannya. Ia mulai mengobrak-abrik aturan semaunya sendiri, melarang lagu kebangsaan binatang yang sering dinyanyikan sebagai kenangan pada perang pemberontakan, merombak bendera bersama, mengerahkan sekelompok anjing untuk mengintimidasi hewan lain yang sepakat dengan keputusannya, dan memanipulasi sejarah dan membuat tafsir tunggal atas isi tujuh perintah

Misalnya, dia mengatakan bahwa perintah keempat sebetulnya berbunyi: tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang dengan seprai; tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain tanpa sebab; semua binatang setara, tetap beberapa binatang lebih setara daripada yang lainnya. Semua isi tujuh perintah tersebut dirombak oleh Napoleon untuk mempertahankan kekuasaan dan kejayaan kelasnya, yakni kelas bangsa babi.

Alur yang dikisahkan ini barangkali nampak sederhana, tapi itu belum selesai. Orwell memasukkan begitu banyak binatang di dalam novel ini, lengkap dengan karakter yang unik yang mengundang sejuta tafsir. Misalnya, ada Boxer dan Clover, dua kuda yang sangat kuat. Ada si keledai yang terkenal lamban. Ada ayam-ayam, ada burung gagak, dan masih banyak lagi. Semuanya nampak mewakili karakter-karakter tertentu dalam kehidupan politik manusia sendiri.

Jadi, ini novel tipis yang sekaligus kaya akan beragam tafsiran yang dihasilkannya.
Dari pembacaan dekat, jelas Animal Farm merupakan novel dengan genre fabel bernuansa politik. Sebagai karya sastra, novel ini ini mengeksekusi karakter tokoh-tokohnya dengan baik–mungkin karena idenya sendiri bertahun-tahun sudah ada dalam kepala Orwell.

Dari pembacaan jauh, tema otoritarianisme kuat ngendon di dalam novel tipis ini. Di luar maksud Orwell sendiri mengkritik praktik revolusi Rusia di bawah Stalin (yang sangat dibenci oleh Orwell), kita bisa membaca isi novel ini sebagai sejarah lahirnya otoritarianisme, bagaimana kekuasaan bisa jadi korup dan menindas, dan sebagainya.

Sebab itulah barangkali novel ini akan senantiasa relevan sepanjang masa. Sangat berguna atau bermanfaat dibaca oleh mereka yang sedang atau ingin mendalami praktik politik yang hirarkis dan manipulatif.

Avatar

Dedy Ahmad Hermansyah

3 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: