RT - readtimes.id

Politik Jalur Toll Mandiri untuk yang Berduit

Readtimes.id- Menjadi mahasiswa resmi di perguruan tinggi negeri bukanlah suatu hal yang mudah. Jalur Mandiri memang merupakan salah satu jalur masuk alternatif peluang kedua setelah gagal dalam jalur Nasional dan jalur Bersama. Jalur Mandiri hanya untuk mereka yang berduit memberikan peluang bagi mereka yang punya minat, untuk belajar di universitas bergengsi di universitas perguruan tinggi negeri. Bahwa universitas memberikan peluang pada pihak yang memiliki kemampuan finansial untuk mendapatkan pendidikan di universitas tertentu.

Pakar Pendidikan dari Universitas Hasanuddin, Supratman,SS.M.Sc,Ph.D mengatakan, dilihat dari perspektif konsep negara bahwa pendidikan itu ditanggung oleh negara, maka menurut saya jalur khusus dengan biaya tinggi ini, itu sudah menyalahi atau bertentangan dengan konsep undang-undang dasar negara kita, mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari segi hak asasi manusia (HAM) bahwa pendidikan itu adalah hak asasi umat manusia, jadi setiap umat manusia berhak mendapatkan pendidikan dengan baik.

Ketika ada perbedaan-perbedaan untuk mendapatkan pendidikan, maka dari sudut pandang HAM itu melanggar. Dari segi konsep keadilan, melanggar karena ada jalur khusus hanya untuk orang yang berduit. Jadi dengan syarat itu melanggar konsep keadilan. Karena pendidikan ini, semua umat manusia tanpa syarat apapun. Termasuk dalam hal ini uang.

Berdasarkan konsep dasar baik dari undang-undang, keadilan, jalur Mandiri seperti non subsidi hanya diperuntukkan bagi orang kaya. Dan ini bertentangan. Jadi tidak bijak untuk memberlakukan di dalam dunia pendidikan. Karena dunia Pendidikan adalah jalan utama atau jalan dasar dan jalan yang paling menentukan majunya suatu bangsa. Karena pendidikan itu sebetulnya tujuan utama adalah membangun kapasitas kualitas individu. Pendidikan tidak sekedar pengetahuan yang bersifat teoritis, buku dan sebagainya. Tapi juga dari pendidikan moralitas. Sehingga konsep pendidikan di Indonesia selain membangun kemampuan berpikir. Juga membangun kualitas akhlak

“Kualitas moralitas itulah yang paling dasar sebetulnya dalam konsep pendidikan Indonesia yang mana bertujuan membangun indonesia seutuhnya. Jadi menempuh Pendidikan dengan banyak uang, secara psikologi bahwa, nantinya banyak yang berpikir, tujuan utama berpendidikan untuk merebut kembali uang yang sebelumnya yang telah dikorbankan untuk biaya di universitas. Menempuh dunia pendidikan karena kualitas individunya, kualitas segi ilmu pengetahuan dan keteramapilannya. Bukan karena uangnya. Secara psikologi, nuansa tersebut akan selalu menghinggapi pikiran dan mental mereka secara tidak sadar,” ujarnya kepada Readtimes.id, Selasa, 30 Maret 2021

Dalam konsep psikologi manusia, ada konsep tidak sadar, kehendak dalam konsep tidak sadarnya itu, secara tidak sadar nanti tertanam di bawahnya bahwa kualitas yang membuat dia meraih pendidikan dengan kualitas uang. Bukan kualitas pengetahuannya. Sehingga nanti yang mendominasi dibenaknya adalah uang. Sehingga apapun dia jadinya nanti paling awal yang dipikirkan dalam aktivitasnya, maupun dalam pekerjaannya bagaimana aktivitasnya berimbas kepada uang banyak dan gaji yang banyak.

Pendidikan seharusnya adalah pendidikan yang ramah kepada kualitas sumber daya siswa atau calon mahasiswa yang mendaftarkan diri di Universitas, bukan yang berpihak kepada orang mempunyai modal yang banyak. Jadi pendidikan yang ramah terhadap kemampuan dan keterampilan bukan pada kekuatan uang. Sehingga pendidikan juga seharusnya sekarang ini berpikir untuk independen. Tidak lagi berpikir tentang industrialisasi dan sebagainya. Pengelolaan Pendidikan jangan dibuat takut oleh jargon-jargon dunia industri kapitalisme, yang masih menggunakan konsep barat. Bukan konsep yang tumbuh dan pemikiran para tokoh pendidik di Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara. Dikenal sebagai bapak pendidikan yang utama dalam membangun bangsa Indonesia seutuhnya.

Kualitas Pendidikan yang seutuhnya memiliki intelektual dan moral akan mudah mendapatkan pekerjaan. Menjadi permasalahan kebanyakan rakyat Indonesia berada pada masyarakat menengah kebawah, yang tidak bisa bersaing secara finansial. Tetapi banyak yang membuktikan bahwa anak-anak yang dari kelas menengah kebawah punya kekuatan mental yang bagus. Bahkan melebihi masyarakat perkotaan. Pengelola pendidikan kita harus berhenti mengkuti pola Pendidikan barat. Para pembuat kebijakan seharusnya berani untuk membuat kebijakan pola pendidikan yang sesuai dengan tradisi masyarakat dan budaya kita senrdiri.

Avatar

Ona Mariani

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: