Readtimes.id– ” Dalam tataran praktik posisinya mereka serba salah sebenarnya, antara mempertahankan independensi atau bersiap di mutasi ” ujar A.Ahmad Yani pakar administrasi publik Universitas Hasanuddin
Hal ini diungkapkannya tatkala merespon posisi birokrasi Indonesia yang tak pernah lepas dalam jerat politik rente, dimana menjadi penghubung antara penguasa dan pengusaha.
Alumni administrasi publik dari University of Hawa’i at Manoa, Amerika Serikat ini menilai bahwa sejatinya ini bisa terjadi karena terkadang standar waktu kerja birokrasi tidak sesuai dengan keinginan para pengusaha dan penguasa hingga akhirnya mereka memilih untuk menyelesaikannya melalui jalur internal
” Misal dalam mengurus sebuah proyek perizinan yang memiliki dampak besar terhadap masyarakat, itu jelas akan membutuhkan waktu yang lama dan melalui banyak meja untuk mengkaji hal-hal penting seperti AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan ) misalnya. Sementara para kontraktor dan pengambil kebijakan ini menuntut sesuatu yang efektif dan efisien karena pertimbangan waktu dan cost lainnya ” terangnya
Pria yang meraih gelar Master of Science di Utrecht University di Belanda ini juga melihat bahwasanya regulasi terkait percepatan perizinan yang selama ini diupayakan oleh para pengambil kebijakan sejatinya belum didukung oleh standar kerja serta upaya transparansi di kalangan birokrasi.
Hal ini semakin diperburuk ketika pembagian jabatan dalam birokrasi tidak menggunakan merit system yaitu menempatkan orang-orang yang memiliki kualitas serta kapabilitas dalam bidang tertentu.
” lelang jabatan dengan menempatkan orang-orang yang tidak berkapasitas pada bidang tertentu oleh Kepala Daerah dalam sebuah divisi di birokrasi ini juga semakin memperburuk wajah birokrasi kita sebenarnya dimana semakin kuat mendukung praktik politik rente ini tadi”
Lebih jauh menurutnya ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam perbaikan birokrasi Indonesia jika tak ingin terjerat dalam lingkaran politik rente yakni, mendorong independensi dan netralitas Aparatur Sipil Negara ( ASN) melalui strategi merit system dalam pembagian kerja serta memastikan public service motivation atau motivasi melayani masyarakat ada di dalam diri setiap diri ASN.
Karena sejatinya mereka dipekerjakan untuk menjadi abdi negara dengan tujuan melayani kepentingan masyarakat , bukan untuk menjadi pelayan pribadi penguasa apalagi pengusaha.
Tambahkan Komentar