RT - readtimes.id

Kisah Muram Obsesi Kurt Cobain pada Kematian dan Bunuh Diri

Judul        : Heavier Than Heaven  

Penulis    : Charless R. Cross

Penerbit    : KPG

Tahun Terbit    : 2017

Tebal        :188  hlm 

Mungkin bisa dikatakan ini buku paling otoritatif mengenai riwayat hidup Kurt Cobain, pentolan band grunge yang sohor era 90-an dan jadi ikon pemberontakan anak muda pada zamannya. Ditulis oleh Charless R. Cross, buku berjudul “Heavier Than Heaven” ini menyajikan potret kehidupan Kurt sejak lahir hingga meninggal bunuh diri pada April 1994 diulas secara mendalam dan dengan gaya menulis yang asyik. Nyaris seperti novel. 

Membacanya membawa kita mendekati hampir segala aspek kehidupan Kurt Cobain. Datanya sangat kaya, hingga hal yang mungkin rahasia seperti catatan pribadi Kurt. Charless R. Cross memang beruntung karena mendapatkan kepercayaan dari keluarga kecil Kurt Cobain untuk mengakses segala dokumen menyangkut Kurt.

Bayangkan, buku ini ditulis berdasarkan lebih dari 400 wawancara, ditulis berdasarkan 4 tahun penelitian, serta akses eksklusif kepada buku harian, lirik, dan foto keluarga Cobain yang tidak dipublikasikan dan banyak dokumentasi. Dan hasilnya sangat memuaskan: jadilah buku yang membawa kita pada penelusuran kehidupan Kurt Cobain dari masa-masa awalnya dalam sebuah rumah trailer di pinggiran Aberdeen, Washington, hingga momen-momen yang membawa serta ketenaran, kesuksesan, dan sanjungan tanpa henti dari suatu generasi.

Kurt masuk kelas musik saat menginjak kelas lima SD. Ia mulai main drum pada saat duduk di kelas satu SMP. Kurt mulai membuat film sendiri di usianya 14 tahun. Ia dikenal populer di sekolahnya.

Meski demikian, ia punya selera humor yang ganjil, sarkastis, dan sinis. Dia senang membuat lelucon untuk bisa diterima oleh teman-temannya, dan dengan lelucon itu dia bisa keluar dari konflik pribadinya sekaligus.

Kurt memang anak yang rumit sejak kecil.

Orang tuanya menganggap ada sesuatu yang salah dengan proses berpikir Kurt. Sesuatu yang tidak normal. Bayangkan, di usia remaja dia bisa bercerita dengan tenang peristiwa-peristiwa yang bagi teman-temannya menakutkan dan menyeramkan, seperti tentang pembunuhan, pemerkosaan, dan bunuh diri.

Menyangkut soal bunuh diri, semasa hidup, Kurt Cobain telah berulang kali melakukan upaya tersebut. Charless R. Cross menulis dalam bukunya ini, bahwa pada 1992, usai mencatatkan rekor sebagai band grunge pertama yang tampil di siaran langsung televisi nasional dan mendepak Michael Jackson dari puncak tangga lagu Billboard, Cobain mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara mengonsumsi obat-obatan melebihi dosis aman; dia mengalami overdosis. Beruntung, Courtney Love, istri Kurt berhasil menyelamatkan nyawanya.

Kemudian juga beberapa minggu sebelum tewas, awal Maret 1994, Cobain melakukan hal serupa saat tur konser di Roma, Italia. Dia sempat koma selama 20 jam dan dirawat selama 3 hari di rumah sakit di Roma.

Nampaknya, obsesi pada bunuh diri punya jejak sendiri dalam keluarga besar Kurt. Ia mewarisi semacam ‘gen bunuh’ diri dari keluarganya itu. Misalnya,  kakek buyutnya melakukan bunuh diri, dua pamannya juga melakukan hal tersebut. di luar keluarganya, Kurt juga bergabung dengan kumpulan elite “Club 27” bersama Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Jim Morrison yang semuanya tewas secara tidak wajar pada usia 27 tahun. Dalam buku ini ada tanggapan ibu Kurt yang menyinggung soal ini tak lama setelah ia mendengar kabar kematian anaknya.

Tentang bunuh diri. Kurt suatu kali dalam perjalanan pulang dari sekolah bersama seorang kawannya, John Fields, berkata begini (setelah disarankan oleh temannya itu untuk menjadi artis setelah Kurts dewasa nanti): “Aku akan menjadi musisi superstar, lalu bunuh diri dan melebur dalam api kemuliaan.” Perkataan demikian ternyata dia sampaikan juga ke teman-temannya yang lain.

Ya, pada akhirnya Kurt memang bunuh diri di masa puncaknya sebagai musisi superstar.

Dedy Ahmad Hermansyah

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: