RT - readtimes.id

Mengontrol Ekspektasi dan Arti Penting Sepak Bola Junior

Readtimes.id- Usai sudah perjalanan tim nasional Indonesia U16 pada kualifikasi piala Asia U17 2023. Kekalahan 1-5 dari Malaysia tidak hanya membuat pasukan Bima Sakti finis di peringkat 2 klasemen, tetapi juga gagal lolos dari kualifikasi ini lantaran gagal menjadi runner up terbaik.

Padahal, skuad tim nasional U16 yang berpartisipasi pada kualifikasi kali ini merupakan skuad yang berhasil memenangkan piala AFF U16 beberapa waktu lalu. Alhasil, kritikan tajam warganet menyasar Timnas U16.

Selain para pemain kritikan juga dilayangkan kepada para staf pelatih. Terlepas dari target kritikan tersebut, komentar yang diberikan oleh publik menggambarkan perhatian serta ekspektasi yang besar terhadap Timnas U16 atau dalam hal ini, terhadap sepak bola junior Indonesia.

Berbicara tentang Timnas U16, masih segar di ingatan ketika prestasi tersebut disambut dengan diadakannya konser oleh sebuah stasiun televisi swasta. Alih-alih dilihat sebagai langkah untuk merayakan sebuah pencapaian, hal tersebut justru nampak berlebihan.

Pasalnya, meletakkan para pemain muda di atas panggung besar sedikit banyak bisa meningkatkan ekspektasi khalayak. Seorang psikolog, Jim Taylor mengatakan bahwa ekspektasi terhadap seseorang atau sekelompok atlet bisa saja menjadi beban tersendiri. Adanya beban tersebut tentunya tidak terlepas dari pemikiran untuk membuat senang orang-orang yang terlanjur berharap kepada para atlet untuk bisa berprestasi. Pada suatu titik tertentu, ekspektasi publik yang berlebih dapat mengganggu fokus sang atlet dalam menyajikan performa di atas lapangan.

Ekspektasi besar publik sepak bola Indonesia terhadap tim nasional kelompok umur bisa saja didasari pada 2 hal. Pertama, kecintaan yang besar bahkan cenderung fanatik terhadap olahraga ini. Kedua, hasrat untuk melihat negara kita berprestasi secara global. Namun, karena harapan tersebut tak dapat diwujudkan tim senior, harapan terbagi ke para pemain junior. Pada akhirnya, para atlet muda pun ditekankan berorientasi pada prestasi.

Orientasi terhadap prestasi ini dapat dilihat dari adanya praktik-praktik seperti mencuri umur. Hal tersebut seperti yang pernah disinggung oleh pelatih PSM U18, Irfan Rahman saat diwawancarai Readtimes pada 19 April lalu, praktik memalsukan identitas usia agar pemain yang lebih tua bisa bermain di level lebih muda ini sedikit banyak menjadi jalan pintas. Alhasil, ketika sang pemain sudah mencapai level senior, ia kesulitan bersaing karena sebelumnya bersaing dengan pemain yang lebih muda.

Idealnya, kompetisi di level usia ditujukan untuk pengembangan kemampuan para bibit-bibit sepak bola yang ada. Kemampuan dan mental mereka bakal diasah secara perlahan agar potensinya dapat terus berkembang. Hal yang sama dapat kita lihat dari berbagai turnamen junior yang tidak melakukan publikasi yang berlebihan terkait kejuaraan yang dilaksanakan.

Kiat untuk menghindari publikasi berlebih terhadap para pemain muda di sebuah turnamen tidak lain ditujukan agar para pemain tidak memikirkan ekspektasi yang dibebankan kepada mereka. Para pemain muda cukup berfokus pada pertandingannya dan belajar sebanyak mungkin dari lawan-lawan yang mereka hadapi. Hal ini tidak terlepas dari kondisi mental para pemain muda yang masih perlu mendapatkan pendampingan.

Para pemain muda sejatinya merupakan pihak yang seharusnya dilindungi oleh mereka yang bertanggung jawab atas mereka . Jangan sampai, ekspektasi terhadap mereka pada akhirnya malah mengganggu fokus para atlet dan menyebabkan penurunan performa.

Avatar

Jabal Rachmat Hidayatullah

1 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: