RT - readtimes.id

Bagaimana Sains Menjejaki Muasal Leluhur Manusia Modern

Judul : Asal-usul Manusia


Penulis : Richard Leakey


Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (PKG)


Tahun Terbit : April 2019


Tebal : xix + 219 hlm

Dalam pemaparan kitab-kitab suci berbagai agama, manusia kerap digambarkan sebagai makhluk mulia, berbudi dan berakal, memiliki kesadaran, memiliki sistem bahasa yang kompleks, dan sebagainya. Adam dan Hawa sering disebut sebagai manusia paling awal. Tapi, bagaimana manusia itu memperoleh segenap kemampuan tersebut—akal budi, bahasa, kesadaran, dan lain-lain?

Pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut menjadi lapangan garapan sains. Salah satunya ilmu Paleoantropologi—yaitu cabang ilmu biologi dan antroplogi yang mempelajari sejarah asal-usul manusia dari bukti-bukti fosil yang ditemukan. Paleontropologi menyusun argumentasinya tentang bagaimana sejarah mula-mula genus manusia modern seperti kita ini melalui analisa struktur tulang belulang purba yang ditemukan mulai dari Afrika hingga Asia.

”Asal-usul Manusia” yang ditulis oleh Richard Leakey, seorang ahli paleoantropologi dan konservasi kelahiran Kenya, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas tadi. Dengan pengalamannya berpuluh-puluh tahun menggeluti dunia fosil dan ilmu antropologi, Richard Leakey mengantarkan kita pada penjelasan: bagaimana sejatinya pohon silsilah manusia? Kapan bahasa lisan yang canggih mulai muncul? Apa yang menyebabkan ukuran otak meningkat secara dramatis pada masa prasejarah manusia? Jawaban-jawaban atas senarai pertanyaan tersebut disajikan secara detail dalam delapan bab.

Richard Leakey memberikan penjelasan ilmiah kepada kita tentang perjalanan asal-usul manusia dari bukti-bukti fosil yang ditemukan selama ini. Tak sekadar itu, tafsiran atas belulang purba yang ada tersebut kemudian dibangun dengan mencoba menjawab pertanyaan bagaimana pola pengorganisiran secara sosial, dan bagaimana pengaruh timbal balik antara kemampuan menggunakan teknologi dengan evolusi volume otak.

Buku ini menghamparkan kepada kita betapa ilmu sains adalah medan ilmu pengetahuan yang penuh dengan tarung diskusi dan debat yang alot. Dimulai dari hipotesa Darwin tentang dari mana sesungguhnya ‘kampung halaman’ leluhur manusia modern seperti kita, yang sohor disebut dengan predikat homo sapiens, sampai pada perdebatan sengit kapan pertama kali genus homo itu mulai membentuk pola kesadaran, berbahasa, berkesenian atau berkebudayaan.

Bagaimana asal-muasal manusia modern
berkesadaran, berbahasa, dan berkesenian

Barangkali kita akrab dengan gambar tengkorak atau serpihan belulang manusia purba beserta perkakas teknologi mereka—seperti bebatuan dan senjata dari kayu—yang ada dalam berbagai sumber prasejarah. Namun penjelasan tentang bagaimana tengkorak itu berevolusi, dan apa pengaruh timbal balik antara perkakas teknologi tersebut dengan munculnya kesadaran mengorganisir diri secara sosial barangkali tidak pernah kita dapatkan.

Richard Leakey memerikan atau mendeskripsikan kepada kita alur kronologis berbagai evolusi belulang manusia beserta pengaruh timbal baliknya antara penggunaan teknologi dengan kemampuan kesadaran lainnya, seperti berbahasa dan berkebudayaan.
Richard menjelaskan, asal usul genus manusia modern itu ditandai dengan kemunculan jenis spesies homo erectus yang ditandai dengan karakter bipedal—atau berjalan-tegak. Kenapa demikian? Karena sifat berjalan-tegak ini memungkinkan genus ini untuk menggunakan kedua tangan dengan beragam fungsi secara maksimal. Melalui kemampuan ini jelas memberi pengaruh besar padanya untuk bagaimana membuat perkakas dan senjata yang pada akhirnya menimbulkan evolusi pada kesadaran mental.

Homo erectus ini lahir di Afrika, lalu genus pertama dalam spesies homo yang berpencar dan menyebar keluar Afrika, salah satunya ke Asia. Lalu muncullah tradisi berkelompok yang pola hidupnya berburu dan meramu. Nah, di titik inilah—masa berburu dan meramu—kemudian evolusi terbesar dalam perkembangan otak (secara volume dan mental) manusia terjadi.

Penjelasannya seperti ini: ketika berburu meramu dilakukan secara berkelompok, tentu harus dibayangkan bahwa akan ada pembagian kerja secara sosial, lalu mengatur distribusi hasil buruan. Nah, dalam pembagian kerja dan distribusi hasil buruan ini kita perlu mengimajinasikan adanya kemampuan berbahasa dan berinteraksi secara sosial. Kemampuan ini tidak datang begitu saja, namun diciptakan. Dan proses penciptaan itu jelas berpengaruh pada evolusi tubuh, khususnya otak.

Ketika volume otak bertambah besar, manusia kemudian memulai aktifitas yang sifatnya subyektif dan reflektif. Mereka mulai bisa mengartikulasikan pengalaman mereka ke dalam aktifitas kesenian, seperti menggambar—biasanya sering kita jumpai pada dinding dalam gua-gua besar. Telah menjadi ranah perdebatan dan diskusi yang sengit di kalangan ilmuwan perihal mengapa, bagaimana, dan apa motif manusia purba menggambar di dinding-dinding gua. Namun yang tak bisa dibantah, aktifitas tersebut memberikan bukti bahwa aktifitas otak mulai berkembang.

Kemampuan ini terus diwarisi dan dan berkembang secara kompleks sekaligus canggih pada spesies homo saat ini, homo sapiens, yakni kita sendiri. Kemampuan kita mengorganisir diri dan mengartikulasikan kesadaran kita melalui bahasa sejatinya dipancang pada era leluhur kita, yaitu homo pemburu-pengumpul. Kemampuan kita mengelola sistem sosial yang besar sejatinya diletakkan pada masa leluhur kita membuat perkemahan secara berkelompok. Dan kemampuan kita berbahasa dan membuat sistem simbol tekstual juga dimulai dari era saat leluhur kita mulai menggambar di dinding-dinding gua.

Secara ilmiah, itu sulit dibantah. Maka tak perlu merasa risau dan terhina ketika mengetahui sejarah leluhur kita sendiri.
Memang membutuhkan sedikit kesabaran dalam membaca buku ini. Istilah-istilah ilmiah sering sekali kita temukan hampir dalam setiap halaman. Namun, dalam pengakuan penulis pada kata pengantar, istilah-istilah tersebut tak bisa tidak digunakan karena istilah dasar yang disepakati semua ilmuwan. Meski demikian, ia sudah berusaha maksimal untuk memberikan deskripsi sederhana sehingga penjelasannya ramah bagi pembaca pemula tentang sains.

Membaca buku ini, setidaknya bagi pemula, akan membuat mereka sadar bahwa pengetahuan dangkal pada argumen tidak bertanggung jawab yang mengatakan bahwa Darwin menyebut manusia berasal dari monyet itu cetek belaka. Bacalah!

Avatar

Ona Mariani

Tambahkan Komentar

Advertisement

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: