RT - readtimes.id

Maraknya Pemberitaan Memuat Hasil Survey, Masyarakat Perlu Kritis

Sebuah pemberitaan yang dilengkapi dengan data hasil survey tak dapat dipungkiri akan lebih mudah dipercayai oleh publik. Data hasil survey secara tidak langsung memberikan validasi bahwa informasi berita yang disampaikan ke publik adalah benar adanya.

Pemberitaan menyoal elektabilitas pasangan calon menjelang pemilihan umum misalnya, yang tak jarang dijadikan publik sebagai referensi untuk memilih, seringkali menyematkan data hasil survey dari lembaga tertentu untuk bisa memengaruhi pilihan publik.

Pertanyaan baru yang kemudian muncul di masyarakat adalah terkait sejauh mana sebenarnya data yang dikeluarkan oleh lembaga survey tersebut akurat dan bagaimana dengan keberpihakan lembaga survey terhadap para pasangan calon. Ini tak bisa dipungkiri menjadi hal yang penting karena dapat berpotensi memicu perdebatan terkait hasil survei yang dikeluarkan terutama jika itu hasil survei politik.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut Communication Research Community (Conquire) bekerja sama dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, mengadakan bincang-bincang sembari menanti waktu berbuka puasa mencoba mengurai seputar kesalahan survei yang terjadi dengan aspek-aspek teori yang relevan. Dan mengungkap terkait faktor-faktor yang dapat menyebabkan sebuah hasil survei perlu dipertanyakan.

Pada diskusi yang diikuti secara daring oleh peserta dari Jakarta dan luar Jakarta ini menghadirkan Dr. Pinckey Triputra, M.Sc, peneliti senior komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia sebagai pembicara utama dan Dr. Andi Mirza Ronda, M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Sahid sebagai pemantik.

Dalam pemaparannya Pinckey Triputra menyebutkan kesalahan total survei didasarkan pada fakta bahwa kesalahan dapat terjadi pada setiap tahap survei itu sendiri. Untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi banyak langkah yang harus diperhatikan oleh pelaku survei yakni, pentingnya tujuan sebuah penelitian, sikap dalam menentukan populasi sasaran. Setelah itu peneliti tentukan dengan cermat model dan desain dari sebuah survey serta pilihan-pilihan kerangka contoh penelitian. Langkah selanjutnya papar Pinckey adalah membuat daftar pertanyaan serta menguji ketepatan pertanyaan ini. Kemudian peneliti memilih responden-responden dan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Langkah akhir adalah memproses dan menganalisis data yang masuk.

Adapun beberapa tipe kesalahan (type error) sebuah penelitian yakni random error, systematic error, coverage error, sampling error, nonresponse error, dan measurement error. Disebutkan bahwa pada random error, kesalahan terjadi secara acak seperti faktor psikologis responden ataupun kondisi serta proses pengukuran yang bersifat temporer dan ini dapat mempengaruhi reliabilitas pengukuran efek. Pada systematic errors, kesalahan yang terjadi secara sistematis, antara lain bersumber pada faktor-faktor yang inherent dalam program ataupun dalam alat ukur, indikator/kriteria evaluasi hasil yang diukur, dan juga dalam mengukur korelasi antara program variables dan outcome variables.

Oleh karenanya, setiap lembaga survey perlu memahami kesalahan-kesalahan pada hasil survei tersebut, sehingga masyarakat bisa memahami lebih jelas dan lebih kritis pada produk-produk survei yang ditayangkan.

Avatar

Ona Mariani

Tambahkan Komentar

Advertisement

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: