RT - readtimes.id

Menulis Itu Perbuatan Baik Sekaligus Berat

Judul : Melihat Pengarang Tidak Bekerja
Penulis : Mahfud Ikhwan
Penerbit : DIVA Press
Tahun : Maret 2022
Tebal : 128 halaman

Tidak ada jalan instans bagi seseorang untuk menjadi penulis. Namun sekaligus bukan mustahil untuk menjadi penulis yang baik. Sebab itu tak ada jawaban tunggal dan sederhana terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam mengapa seseorang menulis, apa fungsi bahasa, dan apakah mood penting dalam dunia menulis, bagaimana mengatur jadwal menulis, dan sebagainya.

Poin-poin di atas adalah beberapa kesimpulan yang bisa kita tarik seusai membaca dua belas esai dalam “Melihat Pengarang Tidak Bekerja”, ditulis oleh Mahfud Ikhwan. Pengarang yang namanya tengah moncer-moncernya di dunia sastra Indonesia dan telah menulis lebih dari selusin karya—fiksi dan nonfiksi—tersebut telah mendapat berbagai penghargaan sastra, beberapa di antaranya Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014, dan teranyar adalah novelnya, “Anwar Tohari Mencari Mati”, memenangkan penghargaan Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur pada 2021.

Dan poin-poin tersebut dapat bercampur dalam satu esai: berusaha menjawab apa itu dunia menulis sekaligus mengulik kisah kepenulisannya sendiri dalam satu nafas. Maka nikmatilah “Hanya Penulis”, “Alasan untuk Tidak Menulis”, “Bahasa Indonesia dan Persoalannya—bagi Seorang Pengarang Jawa”, “Melihat Pengarang Tidak Bekerja”, Tentang Menulis Populer”, “Penulis dan Tidurnya”, dan lain-lain.

Barangkali ada banyak buku yang mengulas suka duka seseorang menjadi penulis. Namun, “Melihat Pengarang Tidak Bekerja” menawarkan nuansa dan narasi yang berbeda. Pertama, Mahfud mengulik alur kisah kepengarangannya sendiri, mengeruk pengalaman-pengalaman hingga ke ceruk terdalam masa kecilnya (untuk mencari jawaban kenapa dia menulis dan kenapa memiliki karakter sendiri dalam menulis). Kedua, Mahfud nampaknya memahami dengan baik sejarah kesusastraan Indonesia. Simak saja bagaimana dia menceritakan kisah unik Chairil Anwar dan sumbangsihnya terhadap dunia kepenyairan Indonesia.

Beberapa esai yang seluruhnya pernah diterbitkan di rubrik “Kolom” mojok.co, situs online yang terbentuk pada 2014 itu, dapat dikatakan memuat semacam tips menulis namun tidak secara secara klise, juga nasihat-nasihat dalam dunia kepenulisan tapi dengan penuh kerendahan hati. Beberapa kali penulis “Kambing dan Hujan” (2015) itu menyebut dirinya bukan ahli bahasa dan bukan pakar dalam soal dunia sastra, tapi dia berupaya memberikan jawaban yang sekiranya mampu dipertanggungjawabkan saat diminta oleh beberapa panitia penyelenggara kegiatan kepenulisan.

Pengalaman Mahfud yang terasa sangat otentik itu akan membawa pembaca pada pemahaman bahwa sebuah karya (sastra) bisa sangat bermakna bagi penulisnya. Sebuah novel, seringkas apapun ia, bisa jadi oleh penulisnya dilahirkan dengan susah payah, disunting berulang kali, dan bisa saja berakhir dengan kekecewaan saat karya itu diterbitkan. Itulah yang dialami Mahfud saat “Ulid”, novel pertamanya, diterbitkan. Padahal novel itu ditulisnya di tengah-tengah ambisinya menulis novel.

Jadi, pada pokoknya, esai-esai di dalam buku ini menghamparkan setidaknya tiga hal sekaligus: sebagian kisah hidup penulis (masa kecil yang diliputi peristiwa-peristiwa kepecundangan), proses kreatif beberapa karyanya (menulis popular untuk mendapatkan uang hingga proses membuat novel yang ditulis bertahun-tahun), dan pendapat serta analisanya terhadap wacana bahasa, sastra Indonesia, dan tetek-bengek dunia kepenulisan.

Barangkali beberapa esai dapat dikatakan memuat semacam tips menulis namun tidak secara secara klise, juga nasihat-nasihat dalam dunia kepenulisan tapi dengan penuh kerendahan hati. Beberapa kali Mahfud menyebut dirinya bukan ahli bahasa dan bukan pakar dalam soal dunia sastra, tapi dia berupaya memberikan jawaban yang sekiranya mampu dia pertanggungjawabkan saat diminta oleh beberapa panitia penyelenggara kegiatan kepenulisan.

Pembaca setia karya-karya Mahfud Ikhwan telah banyak di Indonesia, baik pengagum karya sastranya maupun karya non fiksinya. Untuk karya non fiksinya, Mahfud dikenal sebagai pengulik tema sepakbola dan dunia film India—yang terakhir adalah tema pinggiran yang nampaknya berhasil diangkat martabatnya oleh Mahfud dalam Kumpulan esainya, “Aku dan Film India Melawan Dunia” dalam dua jilid pada 2017.

Nah, “Melihat Pengarang Tidak Bekerja” akan menjadi bacaan pelengkap bagi pengagum karya-karya Mahfud untuk memahami latar belakang kelahiran-kelahiran tulisan-tulisannya.

Avatar

Dedy Ahmad Hermansyah

344 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: