RT - readtimes.id

Analisis dan Perspektif Dalam Memahami Perkembangan Konflik Palestina Vs Israel

Eskalasi konflik Palestina dan Israel di daratan Timur Tengah menyita kembali perhatian masyarakat dunia dalam beberapa pekan ini, seolah mengingatkan kembali bahwa hingga kini belum ada resolusi yang jelas untuk mengakhiri konflik 100 tahun dengan puluhan ribu korban jiwa tersebut.

Dalam memahami perkembangan isu dan menganalisis setiap persoalan yang dihadapi oleh dunia Internasional hari ini dalam upaya menciptakan perdamaian di daratan Timur Tengah, Center for Innovative Planning, Development Universiti Teknologi Malaysia, SDGs Center dan Center for Peace, Conflict and Democracy (CPCD) Unhas menyelenggarakan webinar Internasional yang bertajuk “Understanding Conflict Palestine vs. Israel: Analysis and Perspectives”, pada Kamis, 20 Mei 2021.

Menghadirkan dua panelis yakni Dr. Wesam Al-Madhounein dari Centre of Sustainable Development, Gaza University, dan Agussalim Burhanuddin peneliti dari Center for Peace, Conflict & Democracy (CPCD) yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin dan dipandu oleh Prof. Dr. Muhammad Zaly Shah dari Centre for Innovative Planning and Development, Universiti Teknologi Malaysia sebagai moderator.

Sebagai panelis pertama dalam webinar yang diikuti oleh sekitar 100 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, Dr. Wesam Al-Madhounein menyampaikan sejarah singkat konflik Palestina-Israel dan kondisi terkini di Palestina di mana serangan Israel masih terjadi dan upaya sistematis untuk mengusir rakyat Palestina dari Jerussalem Timur dan menggantikannya dengan pemukim Yahudi. Konflik terbaru diawali dengan datangnya pemukiman baru Yahudi dilindungi oleh polisi dan tentara Israel di Sheikh Jarrah dan berupaya mengusir sekitar 28 keluarga Palestina yang telah menetap lama. Masalah Sheikh Jarrah ini kemudian dijadikan alasan bagi Israel untuk melancar serangan militer.

Dr. Wesam juga memberikan penjelasan mendalam bahwa masalah terkini bukan hanya antara Palestina dan Israel, tetapi juga menjadi persoalan internal di Israel mengingat bahwa banyak warga Arab Israel yang sebelum wilayahnya dikuasai Israel merupakan orang Palestina. Warga Arab Israel ini yang juga berkonfrontasi dengan kelompok Yahudi Israel yang mendukung pendudukan. Selain serangan militer, rakyat Palestina juga mengalami kesulitan dalam masalah infrastruktur, lingkungan dan akses terhadap sumber daya. Hal ini dilakukan oleh Israel dengan mempersulit jaringan listrik dan air untuk warga Palestina.

Sebagai contoh, pendudukan Israel di Jalur Gaza menguasai sumur-sumur penting dan memompa airnya ke wilayah Israel. Dr. Wesam yang juga merupakan dosen di Gaza University menyebutkan bahwa terdapat bukti bahwa Israel menggunakan larutan kimia yang meracuni air dan tanah di Palestina sehingga mengakibatkan berbagai masalah kesehatan khususnya bagi wanita hamil dan anak-anak. Pada konflik terkini, ketidakmampuan militer Israel untuk membungkam serangan roket dari kelompok perlawanan Palestina, kemudian dilampiaskan dengan serangan udara Israel terhadap penduduk sipil dan infrastruktur seperti jalan, jaringan listrik dan jaringan air di Palestina.

Sementara itu, Agussalim Burhanuddin dalam paparannya menjelaskan bahwa terkait dengan konflik Palestina-Israel, pemerintah dan masyarakat di Indonesia, Malaysia, dan Brunei memiliki posisi yang sangat jelas yakni mendukung segala upaya untuk kemerdekaan dan kebebasan Palestina sebagai negara yang berdaulat, dan menentang keras agresi Israel terhadap penduduk dan wilayah Palestina. Hal ini ditunjukkan dengan konsistensi ketiga negara untuk tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel sebagai wujud penolakan terhadap sikap Israel terhadap Palestina.

Terkait dengan konflik terkini di Palestina, Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin dan Presiden Indonesia Joko Widodo memberikan pernyataan keras mengecam aksi militer Israel. Selain itu, Agussalim menambahkan, diplomat Indonesia dan malaysia berusaha keras mempengaruhi negara anggota Dewan Keamanan PBB utk mengeluar resolusi untuk menghentikan serangan militer Israel, namun rancangan resolusi tersebut kemudian diveto oleh Amerika Serikat.

Agussalim juga menyesalkan upaya Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang dinilai tidak efektif dalam melakukan diplomasi internasional untuk menghentikan bertambahnya korban rakyat Palestina akibat serangan militer Israel. Padahal alasan utama didirikannya OKI pada akhir tahun 1960an adalah sebagai respon Dunia Islam atas pendudukan Israel atas Masjid al-Aqsa.

Ketidakmampuan OKI saat ini ditengarai oleh Agussalim sebagai akibat banyaknya masalah internal yang dihadapi oleh negara-negara OKI khususnya negara Arab seperti Mesir, Suriah, dan Yordania yang memiliki kedekatan geografis dengan Palestina dan Israel. Ketidakmampuan negara-negara Arab ini seharusnya diisi oleh peran lebih aktif dari Indonesia dan Malaysia sebagai negara anggota OKI yang memiliki kondisi politik internal yang relatif stabil.

Merespon sejumlah pertanyaan dari peserta webinar, Dr. Wesam dan Agussalim sepakat menyatakan bahwa opsi militer terhadap Israel bukanlah pilihan yang rasional saat ini mengingat kemampuan kekuatan militer Israel dan posisi AS di belakangnya. Untuk itu, negosiasi dan diplomasi damai merupakan solusi yang paling realistis untuk segera menghentikan konflik Palestina-Israel, dan Agussalim menyaran Indonesia dan Malaysia untuk memainkan peran lebih dalam pilihan ini. Namun opsi ini juga memiliki tantangan tersendiri mengingat Indonesia dan Malaysia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun demikian, menurut Agussalim, upaya diplomatik dapat dilakukan dengan melibatkan negara ketiga yang memiliki hubungan dengan Israel, atau menggunakan organisasi-organisasi internasional seperti PBB secara lebih efektif.

Selain itu, membangun hubungan dengan faksi politik yang lebih moderat dalam politik dalam negeri Israel dapat memberi peluang untuk mengurangi atau menghentikan aksi militer Israel ke Palestina. Melalui cara-cara tersebut, upaya Indonesia dan Malaysia harus lebih aktif yang konsisten dan terus-menerus dalam mendukung kemerdekaan Palestina bukan hanya sekedar aksi reaksioner yang hanya muncul pada saat Israel melancar serangan militer.

Dr. Wesam al-Madhoun menyebutkan pada dasarnya terdapat dua kemungkinan solusi atas konflik Palestina-Israel, yakni solusi koeksistensi dua negara atau solusi satu negara, dan kedua solusi ini susah diterima Israel. Solusi pertama yang paling memungkinkan tetapi Israel sejauh ini tidak menunjukkan sikap mendukung pada opsi ini. Sedangkan solusi kedua juga dihindari Israel karena orang Arab akan menjadi penduduk mayoritas.

Sementara itu Agussalim juga menambahkan bahwa sangatlah sulit untuk membuat Israel mengakui eksistensi Palestina sebagai sebuah negara berdaulat yang berarti Israel harus menyerahkan kembali wilayah-wilayah Palestina yang didudukinya, sementara telah banyak permukiman-permukiman Yahudi yang dibangun Israel di wilayah Palestina.

Avatar

Ona Mariani

Tambahkan Komentar

Advertisement

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: