RT - readtimes.id

Banjir dan Kecakapan Nalar Pengelola Negara

Sebagai manusia, kita memiliki perkakas kecakapan kognitif seperti kemampuan adaptasi, imajinasi, penalaran bahkan inovasi. Bekal yang membuat manusia mampu untuk terus bertahan hidup, termasuk menyelesaikan berbagai persoalan yang datang serta membuat solusi akan masalah dan krisis yang  sedang dihadapi.

Warisan yang menjadi bekal sebahagian besar nenek moyang kita pada masa lalu dan dalam catatan sejarah terbukti membuat mereka dapat bertahan hidup dan tidak punah. Modal yang membuat nenek moyang Sapiens  dalam kesimpulan Yuval Noah Harari sebagai kemampuan survive bisa bertahan dari rangkaian bencana alam, wabah penyakit, bahkan ancaman mahluk buas.

Pertanyaan yang layak kita ajukan, apakah warisan kecakapan kognitif itu masih kita miliki sebagai manusia? Apakah dekalarasi pencapaian sebagai manusia ‘modern’ yang berarti ‘terkini, baru’ yang membedakan kita dengan manusia masa lalu itu telah mengantarkan kita pada inovasi dan cara-cara baru dalam menyelesaikan masalah dan tantangan yang terus berulang?

Fenomena banjir ibu kota yang terus terjadi adalah gambaran bahwa manusia-manusia pengelola negara  tidak pernah beranjak banyak dari warisan masalah masa lalu. Artinya, mereka belum mampu menggunakan kecakapan kognitif yang kita miliki untuk melakukan imajinasi, kreasi dan inovasi untuk menghadapi persoalan ‘air berlebihan yang merendam daratan’.

Padahal, ibu kota yang katanya simbol dari perwajahan peradaban negara, dimana berbagai kebijakan untuk urusan  225 Juta jiwa penduduk, 34 Provinsi dan 500 lebih kabupaten/kota diputuskan, hanya untuk mengelola masalah ‘tata air’ saja belum mampu, padahal banjir adalah fenomena tahunan yang selalu berulang dan berulang.

Tentu sudah banyak studi, kajian, mengapa banjir terus berulang di ibu kota negara. Lantas mengapa persoalan banjir terus terjadi? Bisa jadi karena pengelola negara dan pengambil kebijakan masih berpikiran  layaknya ‘ petugas pemadam kebakaran’. Bertindak ketika api sudah menjalar dan segera pulang setelah api padam.

Kemampuan inovasi dalam wujud mitigasi kebencanaan tidak pernah benar-benar serius di jalankan. Padahal lewat tindakan mitigasi, para pengelola negara harusnya mampu mengelola tata air, tata ruang dan tata uang untuk menghadapi masalah banjir yang sebenarnya adalah persoalan tahunan.

Lantas mengapa banjir terus berulang?  

Mungkin, kita layak bertanya kembali soal kecakapan kognitif manusia-manusia pengelola negara, orang-orang ibu kota. Apakah mereka masih bisa bertahan dan  tidak akan punah hanya karena banjir?

Avatar

Rahmad M. Arsyad

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: