RT - readtimes.id

Lautan Rempah dan Sisa-Sisa Warisan Budaya Portugis di Nusantara

Judul : Lautan Rempah, Peninggalan Portugis di Nusantara
Penulis : Joaquim Magalhães de Castro
Penerbit : ELEX MEDIA KOMPUTINDO
Tahun : November 2019
Tebal : xiv + 373

Readtimes.id — Barangkali kita hanya mengenal Portugis sebagai bangsa Eropa pertama yang datang ke Nusantara—dengan penaklukan Malaka pada 1511, sebelum kemudian disingkirkan oleh dominasi bangsa Belanda sebagai pesaing berat mereka. Namun sesungguhnya ada begitu banyak tradisi di beberapa tempat di Indonesia yang merupakan peninggalan negara bernama latin Lusitania ini.

Tak perlu jauh-jauh untuk mencari warisan Portugis itu. Musik keroncong yang sering kita dengar dari lagu-lagu lama, atau yang diambil elemennya oleh band Payung Teduh (di samping elemen folk dan jazz) yang terkenal itu, adalah warisan Portugis dalam bidang musik. Ukulele yang biasa dimainkan oleh pemusik jalanan jelas diperkenalkan pertama kali oleh bangsa Portugis.

Joaquim Magalhaes de Castro mengajak kita menelusuri peninggalan Portugis di Nusantara lewat bukunya, “Lautan Rempah”. Buku ini nampaknya direncanakan sebagai buku catatan perjalanan sederhana, nyaris menyerupai catatan harian namun telah diolah hingga menjadi narasi jurnalistik. Kita akan dibawa olehnya ke NTT, Sulawesi, Jawa, hingga Sumatra, menemui orang-orang berdarah Portugis dari yang murni sampai campuran, menengok sisa-sisa benteng yang dibangun oleh tentara-tentara Portugis.

Buku ini bisa memiliki efek yang berbeda bagi pembaca Indonesia dan Portugis. Bagi pembaca Portugis, khususnya yang berasal dari generasi muda seperti Joaquim si penulis buku, jelas ini akan menambah informasi penting tentang sisa-sisa warisan ‘leluhur modern’ mereka di Indonesia. Bagi pembaca Indonesia barangkali efeknya lebih dahsyat lagi: betapa banyak aspek budaya kita hari ini yang berasal dari Portugis—atau setidaknya bercampur dengan tradisi asli.

Pertemuan Joaquim si penulis buku dengan orang-orang yang terus melestarikan kebudayaan Portugis di Larantuka, di Flores, dan beberapa tempat lainnya akan membuat kita terenyuh pada keteguhan mereka memegang erat warisan budaya mereka. Apalagi jika membaca kisah lelaki tua bernama Edmundus Pareira, yang wajahnya dijadikan sampul buku ini, yang begitu telaten mengerjakan kamus Portugis-Indonesia.

Isi buku ini dibagi ke dalam tiga bab yang merangkum tiga daerah utama yang didatangi oleh si penulis. Bab pertama memasukkan dua wilayah sekaligus—Nusa Tenggara dan Sulawesi, dengan 33 tulisan; bab kedua, perjalanan tujuh tempat di daerah Jawa; dan bab ketiga, berisi lima catatan anjangsana si penulis di daerah Sumatra.

Di Nusa Tenggara dan Sulawesi, Jaoquim berkunjung ke Flores dan Larantuka, dan bertemu dengan para keturunan raja Da Silva, menjalin komunikasi dengan keturunan Portugis Hitam, menikmati penganan warisan Portugis, dan sebagainya. Di Sulawesi sendiri Joaquim mengunjungi Banda, Ternate, dan Tidore, lalu ke Maluku, mengunjungi banyak tempat seperti benteng-benteng yang pernah didirikan oleh Portugis.

Buku ini tidak sedikit pun menyinggung sentimen sisa-sisa aroma busuk kolonialisme Portugis di Eropa. Jaoquim benar-benar hanya fokus pada penelusuran akulturasi budaya Portugis dan Indonesia, memotret kisah-kisah orang-orang keturunan Portugis, menceritakan apa yang masih kuat melekat atau apa yang telah pupus dari tradisi budaya Portugis yang asli.

Aspek kebudayaan menjadi menonjol dalam buku “Lautan Rempah” ini. Nilai human interest terasa kental dalam sebagian besar tulisan. Misalnya, perasaan sedih Joaquim ketika kembali berkunjung ke Aceh pasca tsunami, di mana dia tidak lagi mendapati warga keturunan Portugis bermata biru yang berada di Lamno Aceh yang pernah menyambutnya beberapa tahun sebelumnya.

Ya, begitulah, Portugis memang datang ke Indonesia sebagai bangsa kolonial. Namun tak bisa dipungkiri kita mewarisi banyak hal dari mereka. Dari situ kita akan menyadari: kolonialisme bukan hanya sebentuk sistem yang mendominasi dan menekan yang lemah secara politik dan ekonomi, tapi juga persentuhan aspek kebudayaan yang akan terus lestari jauh setelah sistem itu runtuh dan bangsa kolonial sendiri kembali ke negaranya.

Avatar

Dedy Ahmad Hermansyah

1 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: