RT - readtimes.id

“Metamorfosis”: Kesepian Manusia dalam Rantai Kapitalisme

Judul                     : Metamorfosis

Penulis                 : Franz Kafka

Penerbit              : Kakatua

Tahun                   : Januari 2023

Ini kisah tentang Gregor Samsa, pemuda penjaja kain keliling yang menanggung nafkah bagi keluarganya, bertanggungjawab dan barangkali adalah sosok semacam workaholic. Lalu tanpa ada tanda apapun ia terbangun pagi-pagi dan “…mendapati dirinya sudah berubah menjadi seekor kecoak raksasa yang menjijikkan di ranjangnya.” Peristiwa tak disangka-sangka ini lantas mengalirkan penderitaan demi penderitaan, kesepian demi kesepian, serta refleksi demi refleksi akan kehidupannya yang begitu sulit dan menyedihkan.

Begitulah novela “Metamorfosis” itu menghamparkan ceritanya kepada kita. Kisah yang menyentuh dan dalam yang ditulis oleh Franz Kafka, penulis kelahiran Praha, ini masih terus diperbincangkan oleh masyarakat (sastra) dunia sejak diterbitkan pertama kali pada 1915 hingga saat ini—dengan judul berbahasa Jerman, “Die Verwandlung”. Dalam bahasa Indonesia sendiri sekurang-kurangnya dua terjemahan berbeda, dan terus dicetak berkali-kali.

Referensi untuk ulasan buku ini sendiri sudah pernah diterbitkan oleh penerbit berbeda. Penerjemahnya, Sigit Susanto, mengalihbahasakan novela ini langsung dari bahasa sumbernya, bahasa Jerman. Jadi terjemahan versi ini lebih terjamin daripada yang bersumber dari bahasa keduanya.

Apa sesungguhnya yang menjadikan novela ini begitu fenomenal hingga masih terus diperbincangkan hingga saat ini? Mengesankan pembaca umum dan menginspirasi banyak sastrawan hebat dunia?

Sebelum menguliknya, mari kita telusuri dulu isi cerita novela ini. Novela ringkas ini—dalam versi terbitan Kakatua ini hanya 84 halaman—berisi tiga bagian. Bagian pertama, kita dihadapkan pada perubahan mendadak Gregor Samsa menjadi kecoak raksasa di ranjangnya. Dalam sekujur bagian pertama ini, si tokoh kita ini panik dan berupaya beradaptasi dengan perubahan mendadaknya tersebut. Dia berusaha keras kembali kepada keadaan normalnya, tapi justru berakibat rasa sakit pada tubuhnya sendiri.

Bagian kedua, tahap di mana respons keluarga Gregor Samsa—ayah, ibu, dan adik perempuannya bernama Greta—terhadap perubahannya menjadi kecoak raksasa. Ragam tanggapan yang mereka hadirkan: adiknya masih peduli dan menaruh perhatian, ibunya yang seringkali pingsan, dan ayahnya yang terkesan acuh tak acuh dan malah nampak menyiksa Gregor.

Bagian ketiga, beralih pada upaya Gregor Samsa menunjukkan perasaannya kepada keluarganya atau orang-orang sekelilingnya—karena di bagian ini tokoh-tokoh lain mulai masuk ke dalam cerita. Namun, lagi-lagi perasaan itu justru ditanggapi dengan semacam laku tak menyenangkan bagi Gregor Samsa.

Ketiga bagian tersebut dijalin dengan narasi panjang (beberapa paragraf tak putus-putus sampai lebih dari dua halaman) dan terkesan ‘cerewet’. Didominasi oleh semacam ‘solilokui’ atau perbincangan si Gregor Samsa dengan dirinya sendiri. Di dalam narasi inilah kita akan berhadapan dengan kayanya tafsir yang bisa kita hasilkan atas narasi-narasi panjang tersebut.

Salah satu tafsir atas kisah si Gregor Samsa ini adalah bagaimana sistem kapitalisme memberi dampak pada psikologi manusia. Kapitalisme, satu ideologi ekonomi-politik yang berpusat pada penumpukan keuntungan tiada henti, menuntut tokoh kita ini untuk bekerja tiada henti. Tuntutan kemanusiaan nyaris tak ditunjukkan oleh sistem tersebut dalam novela ini. Ketika Gregor berubah menjadi kecoak raksasa, bagian kepegawaian di kantornya datang dan memintanya untuk segera bekerja lagi. Gregor sendiri hanya berpikir tentang pekerjaan dan rencana untuk segera menjajakan kain dari kantornya.

Perubahan Gregor menjadi kecoak raksasa dan lantas disisihkan serta diperlakukan dengan jijik dan dianggap tak berguna menjadi simbol bahwa sistem kerja kapitalisme tidak pernah peduli pada nasib seseorang kecuali orang tersebut bisa memberikan keuntungan pada sistem itu. Gregor memang dikenal pekerja keras dan nampak workaholic, dia dipuji atas pekerjaannya. Tapi lantas dianggap tidak berguna sama sekali ketika nasib nahas—menjadi kecoak raksasa—menimpanya.

Tidak ada solidaritas, tidak ada rasa simpati lebih jauh. Gregor hanya akan dianggap selama dia bisa memutar mesin sistem itu—sistem kapitalisme. Inilah dampak buruk kapitalisme kepada psikologi manusia dalam novela ini. Nuansa keterasingan sesama manusia sangat terasa di dalam novela ini.

Kisah “Metamorfosis” ini berakhir pada berakhirnya hidup si Gregor Samsa dalam keadaanya yang tetap menjadi kecoak raksasa. Ia mati putus asa tanpa usaha dikenang, dan keluarganya pindah untuk mencari apartemen baru yang lebih kecil dan murah tapi strategis.   

Mereka lantas akan memutar roda sistem yang sama seperti yang dilakukan Gregor Samsa, untuk kemudian barangkali akan terjerat dalam belitan rantainya.

Avatar

Dedy Ahmad Hermansyah

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: