RT - readtimes.id

Benarkah Minat Baca Kita Rendah?

Tingkat rendah. Minat kurang. Menyedihkan. Terbelakang. Dan sebagainya. Citra-citra negatif semacam itulah yang akan kita dapatkan jika mencari tahu tentang kondisi literasi di Indonesia. Kondisi ini seakan-akan tak hendak beranjak maju, stagnan dan bergeming.

Pada tataran baca tulis pun sepertinya kondisinya sama saja. Tak ada yang benar-benar menggembirakan. Jika pun ada angka penilaian yang naik dari kondisi literasi kita, namun belum begitu signifikan.

Coba kita simak baik-baik penilaian tingkat literasi masyarakat Indonesia yang dilaksanakan Central Connecticut State University: Indonesia disebutkan berada di peringkat 60 dari 61 negara yang dinilai.

Sementara berdasarkan pemeringkatan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan tiap tiga tahun sekali oleh OECD tahun 2015, Indonesia menempati peringkat 69 dari 76 negara, dengan skor membaca di bawah rata-rata 396 dengan kecenderungan meningkat 2,3 poin per tahun.

Mengapa bisa demikian? Adakah angka-angka di atas benar adanya? Jika benar, lalu apa yang sudah dilakukan untuk mengubah kondisi menyedihkan di atas?

Saya tak akan fokus dan tak akan memperdebatkan angka-angka. Saya mengajak kita semua melihat persoalan mendasar serta ‘obat’ yang telah kita resepkan agar ‘penyakit’ literasi kita ini dapat sembuh dan pulih.

Menurut pengalaman komunitas literasi yang kami jalankan, ada kondisi-kondisi di lapangan yang terkadang membuat kami mempertanyakan ‘streotype’ bahwa minat baca orang Indonesia kurang. Mohon dicatat: minat baca.

Pengalaman salah satu komunitas literasi di Kota Mataram bernama Teman Baca membuktikan klaim yang salah tersebut. Dalam setiap gelaran lapak baca yang mereka adakan, baik di taman kota atau di desa-desa, pengunjung selalu membeludak dan antusias membaca.

Itu hanya salah satu contoh saja bagaimana kemudian anggota komunitas ini semakin meragukan klaim bahwa minat baca orang Indonesia itu kurang.

Lalu masalahnya di mana? Mengapa jika minat baca itu masih terjaga namun angka penilaian kondisi literasi kita masih anjlok?

Ya, memang harus kita akui, persoalan literasi ini adalah sesuatu yang rumit. Kita mesti menilainya dari berbagai segi. Baca dan tulis hanya contoh praktik literasi, meski tidak bisa pula dikatakan dua hal itu sebagai sesuatu yang remeh.

Artinya apa? Artinya, persoalan literasi itu punya kaitan pula dengan segi-segi yang lain. Segi di luar literasi itu sendiri, seperti persoalan kemiskinan atau ekonomi. Sementara di segi dalamnya, misalnya pengadaan buku-buku, itu masih sangat memprihatinkan.

Dari sudut pandang penggerak komunitas literasi, saya tak bisa melulu melihat kondisi literasi kita semata hitam putih, dan selalu berada dalam suasana suram. Ada beberapa inisiatif, baik yang dilakukan pihak pemerintah sebagai pembuat kebijakan atau yang digerakkan komunitas literasi, yang mesti kita apresiasi.

Contohnya, untuk menyebut satu contoh sangat kecil, adalah pemerintah Indonesia pernah mengamanahkan Pos Indonesia untuk menggratiskan pengiriman buku kepada komunitas-komunitas literasi di pelosok desa satu kali dalam sebulan.

Dari segi komunitas literasi, sekarang semakin banyak bermunculan gerakan-gerakan literasi yang dijalankan secara mandiri. Contohnya, barangkali kita akrab dengan gerakan Pustaka Bergerak yang memiliki banyak ‘cabang’ di pelosok-pelosok desa, baik yang ada di gunung ataupun di laut.

Abad 21: Tantangan Besar bagi Gerakan Literasi

Abad 21 disebut-sebut sebagai abad kemajuan. Khususnya dikaitkan dengan kemajuan teknologi. Dalam sektor komunikasi, teknologi telah menyediakan kita dengan perangkat yang sungguh canggih. Barangkali tak ada satu pun orang yang tak memiliki alat komunikasi bernama gawai atau gawai pintar.

Jika kita berpikir sederhana, dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, seharusnya semakin membantu kerja-kerja literasi. Namun apa yang terjadi? Angka kondisi literasi kita masih belum beranjak dari yang telah disebutkan di bagian awal tulisan ini. Parahnya, fenomena ini justru menghadirkan dampak negatif tersendiri, sebut saja penyebaran hoaks.

Banyak pihak mengatakan bahwa budaya kita adalah budaya tutur. Barangkali ini yang menyebabkan kita gelagapan saat berjumpa dengan perangkat teknologi yang mengalirkan banjir informasi yang maha dahsyat.

Untuk kesekian kali kita ulang pertanyaannya: lalu masalahnya di mana? Bukankah akses terhadap informasi yang tak tak terbendung yang disediakan perangkat teknologi seharusnya membuat orang semakin melek dalam membaca dan menulis?

Dan bukankah ketika orang sudah terbiasa membaca dan menulis (tepatnya: mengomentari) informasi dari mulai bangun tidur hingga beranjak tidur lagi justru seharusnya meningkatkan nilai kondisi literasi kita?

Saya menengarai, salah satu persoalan mendasarnya adalah pada pola pikir kita dalam memaknai literasi. Memang telah banyak teori yang memberikan definisi literasi secara luas dan dalam. Namun sepertinya kita masih terjebak pada batas definisi bahwa literasi hanyalah membaca dan menulis. Titik!

Pola pikir seperti itu harus diubah. Agar kita tidak salah atau keliru dalam membuat formula penanganannya. Dari sudut pandang penggerak literasi, ada kritik pada kerja-kerja literasi yang dilakukan pengambil kebijakan selama ini. Seperti pengadaan buku-buku yang masih kurang, pendekatan yang dilakukan juga masih sebatas pada garis struktural, padahal seharusnya harus menyentuh ke hal yang kultural.

Dari pengalaman menggerakkan literasi di desa-desa, beberapa komunitas menyimpulkan salah satunya adalah ketiadaan tenaga professional di desa-desa yang menggerakkan literasi ini di tingkat bawah.

Karena, sejatinya gerakan literasi itu tidak berhenti pada baca tulis semata, namun juga pada bagaimana kita memahami dan mampu menganalisa konten dari apa yang kita baca dan kita tulis. Sebab teknologi itu hanya alat, sedangkan literasi itu adalah ruhnya.

Penulis adalah pustakawan di komunitas Teman Baca di Mataram

Avatar

Dedy Ahmad Hermansyah

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: