RT - readtimes.id

MIWF 2022 Respon Isu Lingkungan dan Perempuan

Readtimes.id– Festival literasi terbesar di Indonesia Timur, Makassar International Writers Festival (MIWF) kembali digelar di Rumata’ ArtSpace Makassar pada 23-26 Juni 2022. MIWF tahun ini mengusung tema “Awakening” dan salah satu fokusnya adalah isu lingkungan dan perempuan. MIWF kali ini diselenggarakan secara hybrid karena pertimbangan kondisi pandemi.

Sebagai salah satu komitmen MIWF untuk ikut aktif merespon krisis iklim, gelaran kali ini aktif mendeklarasikan diri sebagai kegiatan publik sebagai dengan rendah karbon. Selain itu, kegiatan ini juga meminimalisir produksi sampah, utamanya sampah yang tidak dapat didaur ulang.

Direktur MIWF Lily Yulianti Farid mengatakan, dampak dari perubahan iklim sangat besar dan mengancam kehidupan manusia. Sehingga, lewat kegiatan ini ada banyak hasil karya literasi yang membahas perubahan iklim dan isu isu lingkungan.

“Selama kegiatan ini, nantinya setiap malam akan diumumkan berapa jumlah karbon yang dihasilkan dari kegiatan ini dan jumlahnya akan terus kita tekan. Sampah-sampah juga sebisa mungkin tidak ada yang berakhir di pembuangan sampah. Bahkan kami tidak mencetak banner plastik tapi dari kain agar bisa di daur ulang,” jelas Lily.

Lily mengatakan penanganan terhadap sampah akan menjadi sulit ketika ditangani hanya pada hilirnya saja. Sehingga, perlu adanya kesadaran untuk menangani sampah dari hulu. Peduli terhadap lingkungan dan sampah harus dimulai dari bagaimana merencanakan kegiatan yang menghasilkan nol sampah, bukan soal menyelesaikan sampahnya yang dihasilkan di lokasi nanti.

“Kami membuat event dengan usaha tidak ada sampah yang berakhir di TPA. Pun jika ada sampah itu sebagian besar organik yang tidak akan dibuang, tetapi akan diolah menjadi kompos,” ungkap Lily.

Selain itu, MIWF juga membuka kelas gratis setiap malam selama kegiatan berlangsung yang akan membahas tata cara menggelar kegiatan skala kecil, sedang, dan besar dengan konsep nol sampah.

Selain merespon isu lingkungan, MIWF juga mengangkat isu perempuan dan kesetaraan gender. Lily mengatakan MIWF yang idealnya dipersiapkan selama sembilan bulan setiap tahunnya selalu mengajak minimal 50 persen perempuan untuk ikut terlibat dalam riset, menulis dan menjadi tim selama mempersiapkan kegiatan ini.

“Mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu bangsa, dalam persiapan itu bahkan mereka diajar soal kapasitas, leadership dan pengorganisasian dan semua hal yang dibutuhkan perempuan sebagai bekal mereka menjalani kariernya,” jelas Lily.

Selain itu, untuk mendukung perempuan dalam menulis, Lily dan tim pada tahun 2020 awal bekerja sama dengan Australia untuk melakukan pertukaran penulis perempuan Indonesia Timur ke Australia. Hal ini dilakukan melihat rata-rata kompetisi kepenulisan di berbagai negara selalu saja dimenangkan laki-laki, sehingga Lily semakin gencar mengajak perempuan menulis dan berkarya, salah satunya melalui MIWF ini.

Tantangan selanjutnya bagi perempuan menurut Lily adalah, setelah perempuan mampu berpendidikan, berkarya, berkarier sama bahkan lebih dari laki-laki. Perempuan harus dihadapkan dengan kultur yang kurang mendukung perempuan untuk berdaya sama dengan laki-laki.

“Perempuan yang ambisius seperti itu di budaya kita kadang kala dipandang kurang baik, sedangkan laki-laki yang ambisius itu dipandang hebat. Perempuan yang mengejar karier, pendidikan ataupun mengabdi di masyarakat selalu dianggap mengorbankan banyak hal seperti keluarga, makanya banyak penolakan,” ungkap Lily.

Lily juga banyak membaca resume dari beberapa perempuan yang hendak melamar pekerjaan dan melanjutkan kariernya. Dari hal tersebut ia menilai masih banyak perempuan yang sepertinya belum rela atau tidak bisa melepaskan rasa bersalahnya terhadap kultur masyarakat ketika memiliki rencana besar, apalagi rencana besar untuk memperbaiki dunia dan masyarakat.

“Saya masih melihat banyak perempuan penuh dengan kegundahan dan dilema. Untuk itu pada event ini, kita mengundang beberapa tokoh yang akan berfokus membahas bagaimana perempuan berekspresi sambil mencoba menghapus rasa bersalahnya dan banyak topik lain soal perempuan,” pungkasnya.

Avatar

I Luh Devi Sania

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: