RT - readtimes.id

Pengaruh Body Image pada Kesehatan Mental

Gail McKinney, gadis berumur 16 tahun dari UK merenggut nyawanya sendiri karena diejek gemuk dan jelek setiap hari.  Priyanka Pethkar dari India, berumur 32 tahun juga merenggut nyawanya sendiri setelah sang mertua tidak berhenti mempermalukannya selama 4 tahun karena kelebihan berat badannya. Tidak hanya kasus bunuh diri, di Indonesia tepatnya di Banyuwangi seorang pria membunuh teman kerjanya  karena sering diejek gendut.

Penilaian diri negatif karena kondisi tubuh yang dinilai secara pribadi tidak sesuai dengan standar pada umumnya (sosial atau komunitas), pada kenyataannya, dapat menyebabkan depresi dan keputusan untuk mengakhiri hidup. Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2020 menunjukkan bahwa depresi adalah penyakit umum di seluruh dunia dimana lebih dari 264 juta orang terkena. Yang paling parah, depresi bisa menyebabkan bunuh diri. Hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Bunuh diri adalah penyebab kematian kedua pada usia 15-29 tahun.

‘’Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan disebutkan bahwa obesitas mempengaruhi psikologis seseorang terutama stressor yang muncul terkait stigma maupun body shaming yang diterima dari lingkungan,’’ ujar Cindani Trika Kusuma, M.Psi., Psikolog kepada readtimes.id, Selasa, 16/2/21.

Penelitian yang dilakukan Mental Health Foundation dan National Library of Medicel menemukan bahwa semua stres tentang tubuh kita berkontribusi pada tingkat masalah kesehatan mental yang mengkhawatirkan, dengan satu dari delapan orang telah mempertimbangkan untuk bunuh diri karena kekhawatiran tentang tubuh mereka.

Cindani menambahkan bahwa beberapa dampak yang dapat muncul terutama pada perempuan yaitu diawali dengan rasa tidak aman(insecure) pada diri sendiri yang semakin lama semakin tidak nyaman lalu mengarah pada gejala gangguan kecemasan seperti mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan orang, takut tidak dapat diterima atau memikirkan secara berlebihan sesuatu yang belum terjadi. Hal ini membuat mereka jadi enggan untuk terlibat atau berinteraksi dengan orang lain terutama si sumber stressor.

Mengatasi situasi tertekan karena berat badan ada beragam, seseorang dengan berat badan berlebih sering melakukan diet yang ekstrim yang berujung pada stress. Menghindari stres tidak selalu memungkinkan. Tetapi, dapat mengidentifikasi pemicu stres dan melakukan yang terbaik untuk menghindari situasi atau orang tertentu pemicu stress. Membuat jurnal makanan mungkin membantu dalam prosesnya. Faktanya, penelitian terbatas menunjukkan bahwa membuat jurnal makanan dapat menggandakan hasil penurunan berat badan.

Cindani mengatakan sebelum melakukan hal tersebut perlu lebih dulu dibangun dan susun definisi sehat dan body image yang dinginkan, jika dengan berat badan yang dimiliki membuat kita nyaman-nyaman saja namun karena omongan orang lain membuat kita jadi merasa sebaliknya maka yang perlu diatasi adalah bagaimana self boundaries yang kita miliki. Kemudian tentukan sumber masalah, misalnya dukungan dari lingkungan sangat rendah atau kesulitan untuk diterima di masyarakat. Setelah diketahui sumber masalah, kita akan mudah untuk menyusun langkah dan strategi untuk menyelesaikannya.

Tetapi ada hal-hal yang bisa dikendalikan dan ada yang tidak bisa kita kendalikan. Yang dapat dikendalikan adalah : pikiran, perasaan dan perilaku diri kita sendiri. Dan sebaliknya, kita tidak mampu mengendalikan apa yang orang lain sampaikan rasakan dan lakukan kepada kita, maka dari itu kemampuan untuk membangun kebiasaan baik (pikiran, perasaan dan perilaku positif) sangat penting untuk menjadi sebuah kebiasaan baik. Jika dirasa sudah sangat mengganggu, segera untuk menemui tenaga profesional.

Avatar

Ona Mariani

482 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: