RT - readtimes.id

Tembok, Polance, & Alien”: Petualangan Kaya Nuansa ke Meksiko

Judul : Tembok, Polanco, & Alien, Suatu Petulangan Kecil ke Negeri Meksiko
Penulis : Azhari Aiyub
Penerbit : circa
Cetakan : September 2019
Halaman : iv + 114 hlm

Kamu pecinta buku perjalanan atau petualangan? Juga sekaligus peminat sastra dan sedikit (sejarah) politik? Dan ingin mendapatkan semua itu dalam satu paket buku ringkas dan padat? “Tembok, Polance, & Alien” adalah jawabannya.

Melalui seratusan halamannya dan melalui lima subjudul, kita akan diajak menyusuri bagian kecil Meksiko: transportasi bawah tanah dan museum-museumnya. Sungguh buku perjalanan yang menawarkan nuansa yang kaya.

“Tembok, Polanco, & Alien, Suatu Petulangan Kecil ke Negeri Meksiko” ditulis oleh Azhari Aiyub, sastrawan Indonesia asal Aceh. Dia sudah menulis beberapa karya fiksi. “Kura-Kura Berjanggut” berketebalan 1000an halaman adalah novelnya yang menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa pada 2018. Jadi, predikatnya sebagai sastrawan tentu jadi jaminan bagi pembaca betapa narasi sastra Azhari Aiyub akan turut bermain dalam bukunya yang sedang kit ulas kali ini.

Dan buku catatan perjalannya itu masih terkait dengan aktifitasnya sebagai sastrawan.

Ceritanya, pada 2015 dia mendapat kesempatan untuk bermukim di Meksiko atas penunjukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Selama bermukim di negeri Amerika latin itu, Azhari mengunjungi museum dan perpustakaan kampus. Dan hasil dari catatan itulah kemudian terangkum dalam “Tembok, Polanco, & Alien” tersebut.

Narasi sastrawi, kisah petualangan, sejarah sosial-politik. Saya pikir tiga hal ini kuat berpadu dalam buku kecil dan ringkas ini. Saya memang memasukkan kriteria buku ini ke dalam genre catatan perjalanan. Tapi bukanlah kisah perjalanan dalam artian banyak orang pahami: mendatangi satu tempat, menggambarkan alamnya, mengagumi makanannya, lalu diajak “bersyukur dengan yang kita miliki”. Saya rasa bukan sejenis itu yang ditawarkan oleh buku tipis ini.

Azhari malah secara gelap dan miris—kadang juga sedikit kocak—memerikan persoalan-persoalan sosial dan sejarah Amerika Latin yang kadang dibandingkannya dengan persoalan Jakarta atau Indonesia secara umum. Ya, kita tahu Meksiko dan Indonesia sama-sama merupakan Negara Dunia Ketiga.

Meksiko sehari-hari yang digambarkan Azhari adalah dunia material yang liar, penuh ancaman, dan sesak dengan berita-berita kriminal yang ditanggapinya secara kritis. Meksiko adalah perpaduan kisruh politik dan kejamnya persaingan kartel narkoba. Dari awal catatannya berjudul “Tembok” nuansa itu langsung tergambarkan dengan gelap.

Meskipun demikian, dia tidak bisa mengingkari rasa kagumnya pada orang-orang Meksiko yang memiliki minat besar pada literasi, dalam hal ini budaya membacanya. Ini bisa kita baca pada subbab berjudul, “Metro”. Pertama, Azhari nyaris tak percaya jika di Meksiko yang liar tersimpan kecanggihan sistem transportasi bawah tanahnya atau disebut Metro. Sehalaman lebih dia menarasikan betapa kagumnya dia pada kebiasaan orang-orang Meksiko pada dunia membaca, baik di dalam kereta bawah tanah maupun di lingkungan umumnya. Mari aku kutipkan satu paragraf yang cukup panjang untuk membuktikan hal itu:

“Di luar gerbong kereta, orang-orang membaca buku juga pemandangan yang lazim, walaupun tidak semaniak di Jepang. Tidak jauh dari tempatku tinggal, di depan sebuah kios yang menjual majalah cabul dan koran kuning, aku pernah melihat dua orang remaja saling bertukar buku, seperti pengedar narkoba dengan pelanggannya. Lebih dekat lagi dengan tempatku tinggal, hanya terpaut dua puluh meter, aku berhasil mengenali seorang satpam yang sehari-hari membuka pintu untuk mobil mewah yang keluar masuk garasi apartemen yang dijaganya, berdasarkan kebiasaannya membaca buku. Setiap hari dari balik gerbang kaca besar aku melihat bapak ini berdiri dengan memegang buku di tangan….”

Membaca paragraf ini barangkali kita akan bertanya-tanya: kok bisa Meksiko Negara Dunia Ketiga seperti kita Indonesia justru melek bacanya tinggi? Seandainya kita mendapati pemandangan serupa di Indonesia, orang membaca di kereta atau di tempat umum barangkali sudah dicap sok intelektual atau sok pintar.

Tidak sampai di situ. Buku Azhari masih akan mengajak kita ke museum nasional atau Museum Nacional de Antropologia. Juga museum swasta besar yang menyajikan sehimpun informasi penting nan bersejarah tentang riwayat politik, seni, dan kebudayaan Amerika Latin. Dalam bab “Museum-Museum”, Azhari mengajak kita berkeliling ke berbagai meuseum di Meksiko dan menjabarkannya secara cukup detail setiap ruangan yang dia kunjungi.

Saya rasa buku tipis ini bakal sangat cocok menemani perjalanan petualangan kita ke sebuah tempat. Kita bisa membacanya di terminal, di halte, di ruang tunggu bandara, atau di warung kopi sederhana di pinggir jalan.

Avatar

Nihlah Qolby

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: