RT - readtimes.id

Usaha Mengupas Lapisan Luar Buku Puisi “Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi”

Judul : Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi
Penulis : Iin Farliani
Penerbit : basabasi
Cetakan : Juni 2022
Halaman : 60 hlm

Tulisan ini tidak hendak menjadikan dirinya satu analisa tajam atas buku puisi “Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi”. Namun hanya sebentuk perayaan atas lahirnya buku puisi perdana penyair asal Lombok ini: Iin Farliani. Biarlah catatan ringkas ini sekadar penghantar kabar kepada pembaca akan telah lahirnya satu karya manis. Atau ibarat mengupas bawang, ini cuma upaya menarik lepas kulit terluarnya saja.

Iin Farliani, penulis buku puisi ini, adalah penulis yang perlahan-lahan muncul dan mengemuka dalam dunia sastra Indonesia. Juni lalu dia mengikuti helatan sastra akbar di Makassar bernama Makassar International Writers Festival (MIWF) sebagai Emerging Writers. Sebelum buku puisi perdananya yang sedang kita bahas ini, buku kumpulan cerpen telah diterbitkannya: “Taman Itu Menghadap ke Laut”.

Nah, kita kembali ke buku puisinya ini. “Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi”: sungguh sebuah judul yang manis, bukan? Ya, di dalam buku yang memuat 50 puisinya ini kita akan menemukan beberapa judul liris seperti ini—sisanya judul pendek-pendek. Misalnya, untuk judul-judul liris dan manis seperti itu bisa kita dapatkan pada puisi “Bertengkar dengan Waktu Tidur”, “Kita Saksikan Bayang-Bayang Berkarat”, “Aku Tak Datang Mengetuk Pintu”, dan beberapa puisi lainnya. Sementara judul-judul pendek (yang nyaris mendominasi) bisa kita temui pada puisi “Dara”, “Pagi”, “Kamar”, “Malam”, dan puisi lainnya.

Sekilas, apa yang cenderung bisa dirangkum dari seluruh puisi dalam buku ini? Ada beberapa, sesungguhnya. Tapi satu hal menarik yang bisa disebut: banyak puisi Iin dalam buku ini yang latar atau temanya adalah dunia serta peristiwa-peristiwa di seputaran inti dan sekeliling rumah. Hal ini bisa secara telanjang dapat kita temukan pada judulnya saja: “Kamar”, “Suara Pintu”, “Rumah Kayu”, “Rumah: Ruang Sempit”.
Belum pula beberapa peristiwa dalam puisinya biasanya hal-hal yang berlangsung atau cenderung kita persepsi sebagai peristiwa-rumah. Ada puisi yang berkisar pada momen menyaksikan pemandangan dari jendela, atau puisi-puisinya yang berkelindan dengan soalan waktu—pagi, siang, malam—biasanya dipenuhi dengan kejadian di dalam ruangan (rumah). Atau tak perlu jauh-jauh, tengok saja puisi yang kemudian jadi judul sampul buku, “Usap Matamu dan Ciumlah Dingin pagi”. Puisi pendek lima baris ini juga berkisar pada kejadian pagi hari di sebuah ranjang (kamar).

Aktivitas di sekeliling inti dalam dan luar rumah juga ada dalam beberapa puisi. Misalnya, “Hari Mencuci”, “Hari Menyetrika”, “Dapur”, “Akuarium”, dan beberapa puisi lainnya. Dan, sebagaimana barangkali bisa diterka-terka dari judul-judul yang disebut terakhir, biasanya cenderung disematkan pada aktivitas gender tertentu, misalnya oleh perempuan. Dan memang, tentu saja puisi yang mengulik subyek perempuan juga ada dan kuat dalam beberapa puisi.

Meskipun telah saya katakan jika beberapa puisi Iin berkelindan dalam soalan peristiwa di seputar inti sekeliling rumah, bukan berarti puisi-puisi tersebut dengan gamblang hanya berbicara soal tema rumah. Biasanya judul-judul tersebut membawa kita lebih jauh pada analogi filosofis tentang hidup dan manusia. Misalnya, “Hari Mencuci” yang membawa kita pada refleksi perjalanan hidup manusia. Mari saya kutip seluruh puisi tersebut:

menghampar kain
di atas temali yang mengapungkan
ribuan tahun kekusutan

yang rela menggantung
dilibas angin, menyemat hari
yang menggigil
mencintainya sebagai noda

tak ada yang membentur jemuran miring ini tak cukup Panjang harum pewangi
meluruhkan sisa keringat
seluruh bau yang ditolak

ke tanah ia kembali
luruh dan bertepi
tidak seperti kejatuhan pertama
di mana sebuah pesan
pernah diturunkan

ia semata tanda
anak manusia
yang telah lama mengukur
lipur

Begitulah Iin membawa dan mengajak kita pada permenungan atau refleksi. Puisi semacam di atas akan kita temui pada beberapa puisi lainnya. Sangat membahagiakan mendapat ajakan serupa itu, bukan? Tidak dengan klise, tapi dengan kelembutan lirik nan manis.

Saya rasa puisi-puisi di dalam “Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi” ini disusun dengan sangat baik. Sehingga satu puisi ke puisi berikutnya seakan hendak menjahit satu pola. Puisi-puisi di dalam buku ini layak mendapat apresiasi dari pelbagai pembaca. Analisa kritis perlu atas buku ini. Apakah kalian yang akan menuliskannya? Ditunggu!

Avatar

Nihlah Qolby

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: