RT - readtimes.id

Berbenah Konsep Pemberian Beasiswa Biar Tak Salah Sasaran

Readtimes.id– Sekitar 400 mahasiswa di Aceh diduga terlibat kasus korupsi beasiswa Pemerintah Aceh tahun anggaran 2017 dengan nilai Rp22,3 miliar. Para mahasiswa tersebut rupanya menerima bantuan tanpa memenuhi syarat.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy didampingi Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Sony Sonjaya di Banda Aceh menetapkan tujuh tersangka setelah gelar perkara dilaksanakan.

“Dari hasil gelar perkara, tujuh orang dinilai memenuhi unsur untuk dijadikan tersangka atas kasus dugaan tindak pidana korupsi dana pendidikan atau beasiswa tahun anggaran 2017,” kata Kombes Pol Winardy dikutip dari Antara (02/03).

Tujuh tersangka tersebut yakni berinisial SYR selaku Pengguna Anggaran (PA), FZ dan RSL selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), FY selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), serta SM, RDJ, dan RK selami koordinator lapangan beasiswa.

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh menangani dugaan korupsi beasiswa tersebut sejak beberapa tahun lalu.

Anggaran beasiswa tersebut ditempatkan di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Aceh dan disalurkan kepada 803 penerima.

Sejatinya, salah sasaran beasiswa seperti ini bukan baru kali pertama terjadi. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, pihaknya pernah mengalami dan mendapati sendiri penerima beasiswa Bidikmisi yang tidak tepat sasaran. Paparan data dari Kemenristekdikti, hampir 5 persen dari total penerima beasiswa salah sasaran.

Pengamat dan praktisi pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan ada beberapa penyebab salah sasaran beasiswa ini. Pertama surat keterangan tidak mampu yang sangat mudah dipalsukan.

“Pada saat verifikasi berkas pendaftaran beasiswa, tidak diperiksa apakah surat tersebut asli atau palsu. Sehingga memudahkan orang-orang untuk membuatnya sendiri. Bisa juga dari pihak RT, RW dan juga kelurahan yang tak begitu peduli apakah si peminta surat tersebut benar-benar layak dikatakan kurang mampu atau tidak,” ujarnya.

Kemudian penyebab kedua adalah kuota beasiswa yang terlalu banyak. Hal tersebut akan membuka peluang bagi siapa saja yang ingin mengikutinya. Baik dari kalangan kurang mampu atau berekonomi cukup.

“Dari hal inilah membuat pemilihan penerima beasiswa menjadi tidak terfokus. Jadi tidak heran kalau beasiswa masih salah sasaran sampai saat ini,” lanjut Indra.

Penyebab terakhir adalah survei lapangan yang hanya dilakukan kadang-kadang. Memang hal ini butuh tenaga dan uang lebih untuk melakukannya. Survei lapangan ini bisa dilakukan secara terus menerus agar beasiswa tidak jatuh ke tangan yang salah. Bisa dilakukan dengan pembagian tim jika mahasiswa yang dimaksud berada di luar kota.

Benahi Konsep Beasiswa

Selain itu, Indra menilai konsep dari beasiswa di Indonesia kurang tepat. Menurutnya beasiswa harusnya diciptakan untuk membiayai pelajar dengan berfokus pada pemenuhan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan di Indonesia.

“Grand desainnya yang paling penting. Kita mau ciptakan SDM seperti apa, bukan hanya sekadar bagi-bagi uang. Konsep besarnya kita mau fokuskan SDM apa, tujuan beasiswa itu seperti ini,” jelas Indra.

Indra mengatakan jangan sampai beasiswa ini hanya jadi proyek bagi-bagi duit dengan konsep yang tidak jelas. Hal ini kemudian akan dilihat kelemahannya dan bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab seperti kasus pada beasiswa di Aceh.

“Anggaran pendidikan Indonesia sebesar Rp550 triliun per tahun, itu baru APBN belum lagi APBD. Anggaran yang banyak itu sangat rugi jika tidak tepat penyalurannya,” jelas Indra.

Selain itu, Indra juga menyarankan beasiswa untuk lebih tepat guna pada sektor-sektor sumber daya alam yang banyak dimiliki Indonesia.

“Kita persiapkan penerima beasiswa ini untuk menjadi ahli atau teknisi pada berbagai sektor sehingga beasiswa bukan menjadi program seperti bantuan sosial (Bansos) tanpa arah yang jelas,” ujarnya.

Pada data yang ditemukan Indra, beasiswa perguruan tinggi hanya memberi uang pada pelajar kurang mampu, namun kurang pengawasan lebih lanjut. Indra menyarankan seharusnya orang kurang mampu penerima beasiswa ini bukan asal disekolahkan tetapi bisa bermanfaat bagi negara.

“Kita punya kekayaan di geotermal, tetapi kita tidak punya program itu di kampus manapun dan ahlinya di Indonesia juga belum ada. Hal-hal seperti ini yang lebih penting dibiayai oleh beasiswa supaya kita tidak lagi cari tenaga asing,” ujarnya.

Avatar

I Luh Devi Sania

2 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: