RT - readtimes.id

Food Estate: Kerusakan Lingkungan dan Kesejahteraan Petani

Readtimes.id- Saat ini pemerintah telah mengembangkan program  food estate  atau lumbung pangan baru. Pemerintah menetapkan lokasi proyek tersebut di empat provinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan dan Papua. Lumbung pangan baru, pengembangan lahan skala besar dengan pemanfaatan hutan lindung, eks proyek lahan gambut satu juta hektar yang sudah pernah mengalami kegagalan di Kalimantan Tengah dan Papua.     

Itulah industrialisasi di bidang pertanian. Perlu mengelola secara profesional serta nantinya dihadapkan banyak tantangan. Sebelum melangkah lebih jauh dibutuhkan tinjauan ilmiah terkait masalah lingkungan termasuk masalah tanah, iklim, kondisi lahan dan sebagainya.  Selama ini kadang kita digerogoti oleh pengembangan kelapa sawit dan pemanfaatan lahan konservasi yang akhirnya  menjadi sorotan dunia.

Pemerintah menncanangkan food estate sebagai salah satu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan sebagai agenda Program Strategi Nasional (PSN) 2020-2024. Dalam menyukseskan PEN, pemerintah mengalokasikan pembiayaan sekitar Rp 356,5 triliun.

Pengamat Pertanian dari Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Baharuddin menanggapi positif program tersebut. Melihat selama ini Indonesia masih kekurangan pangan, bahkan masih mengimpor beras, jagung, kedelai, gula dan lainnya. Kegiatan pertanian juga masih dalam skala kecil dengan skala usaha yang kecil. Sehingga untuk menopang penduduk yang sekitar 270 juta jiwa agak susah sehingga impor terus berlangsung.  

“Sambil berjalan, dibutuhkan kajian ilmiah yang kuat termasuk kajian lingkungan. Jangan sampai berdampak sebagai mana kita lihat kemarin banjir di Kalimantan Selatan. Kerusakan lingkungan seperti penggarapan lahan-lahan yang mengarah ketambang dan pertanian seperti garapan kelapa sawit.  Faktor lingkungan yang menjadi salah satu yang harus menjadi pertimbangan,” ujarnya kepada readtimes.id, Sabtu 27 Februari 2021.

Selain faktor lingkungan menjadi perhatian juga infrastruktur, teknologi, sosial ekonomi masyarakat dan kesejahteraan petani dalam meningkat pendapatannya. Besaran luas garapan petani secara nasional,  tingkat petani miskin dengan garapan lahannya kecil rata-rata 0,33 hektar per petani. Jika dibandingkan Jepang petani per kepala keluarga sekitar 4 hektar, apalagi jika dibandingkan dengan Australia dan Amerika. Kesejahteraan berhubungan dengan masalah sosial ekonomi.

Indonesia terdiri dari beberapa pulau. Misalnya Kalimantan Selatan jumlah penduduknya sedikit dibanding Pulau Jawa. Proyek lumbung pangan dengan pengembangan lahan pertanian yang luas. Ketika proyek ini diserahkan kepada petani atau kelompok tani dengan harapan garapan  lahan ditambah. Infrastruktur, peralatan dan  hasil panen serta logistiknya perlu diperhatikan. Pemerintah perlu memastikan pemasaran produk, keuntungan dari harga pangan yang dihasilkan sehingga bernilai ekonomis.    

Masyarakat butuh pangan, sebagaimana presiden pertama RI Soekarno menyebutkan bahwa pangan merupakan hidup matinya suatu bangsa, kalau pangan tidak tercukupi  pasti akan terjadi kekacauan dimana-mana.  

Avatar

Ona Mariani

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: