RT - readtimes.id

Kisruh Daging Sapi, Indonesia Terlalu Bergantung Impor Australia

Readtimes.id-  Harga daging sapi segar melonjak tinggi dan daya beli masyarakat sedang lesu-lesunya. Harga yang meroket tajam itu disebabkan karena daging yang dijual pedagang ternyata adalah daging impor. Ketika harga daging naik dari negara asalnya, maka otomatis pedagang harus menaikkan harga jualnya.

Australia menjadi negara yang rajin menjual daging sapi ke Indonesia. Bahkan porsi daging impornya paling banyak ketimbang negara-negara pengimpor lainnya. Kebiasaan mengimpor daging di Indonesia sudah ada sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1917 lalu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sejak tahun 2015, Australia semakin rajin mengimpor daging ke Indonesia.  Indonesia semakin ketergantungan pada daging impor. Pada 2016, Indonesia melakukan impor daging sejenis lembu hingga 146 ribu ton, lalu meningkat pada 2017, menjadi 160,19 ribu ton daging.

Meningkat lagi menjadi 207,42 ribu ton pada 2018. Semakin melonjak lagi di 2019 menjadi 262,25 ribu ton. Sedangkan, data 2020 baru sampai bulan Juni, totalnya telah mencapai 84,4 ribu ton daging.

Tahun ini, jumlah daging impor yang masuk RI diperkirakan bakal lebih besar lagi hingga mencapai 298 ribu ton.

Ketergantungan Indonesia terhadap daging sapi Australia tentu pada akhirnya akan menimbulkan masalah. Terbukti, baru-baru ini, Indonesia terancam kelangkaan daging sapi.

Lantaran, para pedagang sapi di Jabodetabek kompak menggelar mogok jualan di pasar beberapa hari terakhir ini. Penyebabnya karena harga daging sapi impor dari Australia saat ini memang sedang melambung tinggi.

Sedangkan, pedagang tak berani menaikkan harga mengingat lesunya daya beli masyarakat belakangan ini terimbas pandemi COVID-19.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto mengungkap, saat ini harga sapi hidup dari Australia tengah mengalami kenaikan dari biasanya US$ 2,8 atau sekitar Rp 39.200 per kg menjadi US$ 3,78 atau Rp 52.900 per kg. Hal itu tentu mempengaruhi harga daging sapi di Indonesia.

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Prof Dr. Ir. Lellah Rahim., M.Sc mengatakan, mengenai impor daging  sudah ada target kuota yang diberikan pemerintah.   Sebaiknya jangan terlalu berharap dengan  negara-negara pengimpor daging.

“Seharusnya kita berupaya mengembangkan di negara sendiri, meski proses dalam jangka waktu panjang. Untuk menutupi kebutuhan, mungkin harus mengimpor bakalan tetapi harusnya pemerintah punya target. Sebab Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ternak khususnya ternak sapi dan kerbau. Sampai kapan kita harus berharap dengan impor,” ujarnya kepada readtimes.id, Senin 25 Januari 2021.

Saat ini sudah tidak memungkinkan lagi menjual harga daging dibawah Rp100.000. Pedagang setidaknya harus menaikkan harga daging hingga Rp130.000 kalau tidak mau merugi.

Pasokan sapi siap potong dari Negeri Kanguru itu berkurang karena adanya pandemi Covid 19, selain itu banjir bandang tahun 2018 di Australia menyebabkan musnahnya 600 ribu ekor sapi. Sehingga, pada tahun 2019, Australia tidak melakukan ekspor karena melakukan pemulihan peternakan sapi bakalan.

Sementara permintaan sapi tahun 2019 dan 2020 tinggi, termasuk dari Indonesia, Cina dan Vietnam. Indonesia harus bersaing dengan dua negara itu untuk mendapatkan impor sapi siap potong dari Australia.

Pembicaraan antara pedagang, importir dan Kementerian Perdagangan sudah dilakukan. Namun belum ada jalan tengah yang sama-sama tidak merugikan pedagang maupun importir. 

Avatar

Ona Mariani

1 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: