RT - readtimes.id

Menelusuri Lorong Panjang Sejarah Nusantara

Judul : Nusantara, Sejarah Indonesia
Penulis : Bernard H. M. Vlekke
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun terbit : cetakan kedelapan, Februari 2020
Tebal : xxii+440 halaman

Buku “Nusantara, Sejarah Indonesia” yang ditulis oleh Bernard H. M. Vlekke ini terbilang komprehensif dalam merentangkan lorong panjang sejarah Indonesia.

Pasalnya, buku ini terbit pertama kali pada 1943—tahun yang notabene Indonesia belum merdeka, sementara pada era tersebut penulisan sejarah Nusantara masih bersifat sepotong-potong baik secara geografis maupun tematis. Vlekke pada tahun tersebut, justru memberikan kita gambaran utuh nusantara.

Buku ini memberi kita informasi yang sangat baik tentang masa-masa pembentukan Nusantara. Kerajaan-kerajaan dilihat sebagai negara tersendiri pada masanya, dan pranata-pranata dari kerajaan tersebut sebetulnya sebagian diwarisi oleh Indonesia pasca kemerdekaan.

Menggunakan kaca mata keilmuan Hubungan Internasional, buku ini memberikan penjelasan yang lebih luas perihal faktor dan dampak kebijakan-kebijakan kolonial. Kita akan memahami dengan lebih dalam bahwa ada faktor internal dan eksternal dari setiap kebijakan Belanda yang diberlakukan dari nusantara.

Biasanya, kondisi baik politik atau ekonomi di level internasional akan mempengaruhi kondisi di dunia jajahan.

Buku ini sendiri juga menarik, karena menggunakan kata ‘Nusantara’ sebagai judul. Kenapa bisa demikian? Karena pada masa terbitnya pertama kali, seperti telah disebutkan yakni pada 1943, terbilang masa di mana kekuasaan kolonial Belanda masih bercokol di Indonesia.

Pada masa ini, meskipun derajat kekuasan Belanda mulai merosot, usaha apa pun untuk menyebut Hindia Belanda dengan nama lain yang menyiratkan usaha untuk merdeka dianggap subsersif.

Maka, judul “Nusantara” yang dipakai Vlekke terbilang berani pada masanya.

Ada 16 bab. Keseluruhan bab menggambarkan alur maju sejarah Indonesia. Vlekke memulai dari penjelasan ringkas teori-teori penyebaran ras yang bakal menjadi cikal-bakal penghuni nusantara, lalu beralih kepada perkembangan awal kerajaan-kerajaan besar di Jawa dan Sumatera lengkap dengan penjabaran konflik dan dramanya, kemudian diiringi dengan kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Belanda, dan Inggris).

Contoh konlik dan drama itu seperti ini: selama 60 tahun kerajaan-kerajaan Islam dan kerajaan Jawa saling berkonflik dan ingin saling menguasai dan kerajaan nusantara di kepulauan lainnya berperang dengan orang-orang Eropa menyebabkan runtuhnya negera-negera tersebut.

Belanda pada masa seperti itu, kadangkala menjadi penonton kadang sebagai wasit.
Setelah itu, uraian pada bab-bab berikutnya berisi kisah panjang hubungan yang cenderung bersifat konfliktual antara pribumi dan pemerintah kolonial. Pada kisah panjang hubungan hirarkis ini, ada drama pemberontakan pribumi akibat kebijakan-kebijakan colonial yang menindas.

Hubungan inilah yang nantinya menanam benih-benih kesadaran nasional pada kalangan pribumi, yang dipupuk oleh kaum terpelajarnya seperti Soekarno, Hatta, sjahrir, dan lain-lain.

Pada bab-bab akhir, Vlekke mendedahkan kepada kita satu era yang memberikan efek signifikan kepada cikal bakal lahirnya ide kemerdekaan Indonesia. Era di mana kolonialisme mulai menemui ajalnya, dan ide atau keinginan merdeka mulai tak terbendung lagi. Di era inilah persemaian ide kemerdekaan mengambil bentuk yang modern, bukan hanya mengangkat senjata, akan tetapi melalui gerakan protes, membentuk study club atau organisasi baik politik atau murni intelektual, mendirikan media sendiri, dan sebagainya.

Tentu ada kelemahan dan kekurangan dari buku ini. Misalnya, bagaimanapun Vlekke tetaplah orang Belanda dengan bias kebangsaannya sendiri.

Vlekke, meskipun tetap berupaya komprehensif dalam melihat sejarah nusantara, namun dia nampak berfokus pada penemuan jawaban mengapa terbentuknya Pax Nerlandica sampai kemudian bubar.

Meskipun demikian, buku ini tetap penting dalam melihat sejarah panjang nusantara secara lebih menyeluruh—karena menggunakan sudut pandang Hubungan Internasional. Perspektifnya juga mulai menggunakan pendekatan anti-kolonial atau non-eropa. Di mana mulai memberikan ruang dan tempat bagi orang Indonesia untuk bersuara.

Sejak diterbitkan pada 1943, lalu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia pada 1961, dan terus diterbitkan ulang hingga saat ini—dan kemungkinan akan terus diterbitkan lagi di tahun-tahun mendatang—“Nusantara, Sejarah Indonesia” Vlekke ini terus dibaca dan diapresiasi oleh banyak kalangan, baik orang awam atau kalangan intelektual .

Jadi, buku ini sangat direkomendasikan dan layak menjadi penghuni rak buku kita.

Avatar

Dedy Ahmad Hermansyah

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: