RT - readtimes.id

Penambangan Bitcoin Tidak Ramah Lingkungan, Peluang bagi Indonesia

Readtimes.id– Penambangan (mining) mata uang digital bitcoin nampaknya menimbulkan masalah lingkungan. Akibat dari sebagian besar aktivitas tersebut dilakukan di negara yang masih menggunakan pembangkit listrik dari fosil batu bara yang tidak ramah lingkungan. 

Data dari Digiconomist menerangkan bahwa  aktivitas penambangan mata uang digital ini menghabiskan sekitar 130.48 Terawatt-jam (TWh) pertahunnya. Ini setara dengan konsumsi daya listrik di Argentina. Selain itu, penambangan bitcoin juga menghasilkan karbon dioksida (CO2) sebesar 61.98 juta metrik ton (Mt) dan sampah elektronik sebesar 8,53 kiloton (kt).

Kepala Laboratorium Relay dan Pengukuran, Departemen Teknik Elektro Univeritas Hasanuddin Dr. Indar Chaerah Gunadin, ST MT menerangkan kepada readtimes.id bahwa kerusakan lingkungan dari mining bitcoin ini disebabkan oleh sebagian besar penambangannya yang masih menggunakan pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil.

“Sebagian besar jumlah fasilitas mining bitcoin berlokasi di China, negara yang konsumsi listriknya masih didominasi pembangkit listrik tenaga batu bara yang murah namun menghasilkan CO2 dan batu bara bukan bahan bakar terbarukan,” ungkapnya.

Relasi anatara mining bitcoin dan emisi karbon dioksida yang berdampak buruk pada lingkungan adalah hasil dari penggunaan listrik yang besar untuk mengoperasikan tenaga komputasi penambangan bitcoin. Listrik yang digunakan ini bersumber dari pembangkit listrik batu bara yang menghsilkan CO2 sebagai limbahnya.

Banyaknya gas CO2 yang dilepaskan ke udara mengakibatkan bumi menjadi semakin panas yang pada akhirnya membuat iklim yang tidak menentu. Selain itu, juga berpotensi menimbulkan bencana alam  di berbagai wilayah.

Dr. Indar Chaerah juga menjelaskan mining bitcoin dapat menjadi lebih ramah lingkungan bergantung pada sumber energi listrik yang digunakan saat melakukan aktivitas penambangan. Ketika proses penambangan itu menggunakan energi dari sumber energi terbarukan maka mining bitcoin bisa jadi lebih ramah lingkungan.

“Ada beberapa negara yang telah menggunakan bahkan 20 persen energi listrik dari renewable energy. Jika mining bitcoin dilakukan di negara ini maka kerusakan lingkungan dapat diminimalisir,” jelasnya. 

Selain itu, aktivitas mining bitcoin yang saat ini ditutup China untuk mengurangi penggunaan energi memberikan peluang bagi negara kita untuk memberdayakan PLTU yang lebih ramah lingkungan. Sehingga, aktivitas mining bitcoin kemungkinan bisa dilakukan di Indonesia.

“Saat ini terjadi migrasi penambangan bitcoin dari Cina secara besar-besaran. Bitcoin itu adalah industri besar sehingga ini menjadi peluang bagi negara kita untuk menyiapkan energi listrik yang murah dan ramah lingkungan yaitu Energi Baru Terbarukan (EBT). Potensi EBT kita sangat besar namun masih perlu pengembangan teknologi untuk dapat membuatnya menjadi lebih murah,” tutupnya.

Avatar

I Luh Devi Sania

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: