RT - readtimes.id

Problematika Kedelai Impor di Indonesia

Readtimes.id-   Pandemi Covid 19, mengakibakan terjadi perlambatan produksi kedelai dunia. Desember 2020, harga kedelai dunia tercatat sebesar USD 12,95 per bushels, naik 9 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat USD 11,92 per bushels. Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar USD 461 ton, naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat USD 435 ton.  

Kenaikan harga kedelai impor dipengaruhi sejumlah faktor global, terutama supply dan demand. Perlu diketahui, Amerika Serikat (AS), Brazil, dan Argentina adalah produsen kedelai terbesar dunia dengan penguasaan pasar 90 persen.

Menurut Dr. Ir. Abd. Haris Bahrun, M. Si, tingginya harga kedelai di pengaruhi oleh  pasar global, dan masalah iklim Lanina, seperti di Amerika, Brasil, Argentina. Permintaan yang cukup tinggi, seperti Cina. Tiongkok membutuhkan banyak kedelai untuk mendukung program peningkatan populasi babi sebanyak 130 juta ekor.

Saat ini, hanya Amerika yang sedang panen kedelai dan memiliki cadangan yang cukup untuk diekspor. Musim panas yang terlalu kering dan bencana angin topan mengakibatkan produksi kedelai Amerika lebih rendah dari yang diprediksikan.   

Tinggnya harga Internasonal, Indonesia  tentu mempengaruhi harga di dalam negeri karena biaya angkut yang cukup lama. Harga yang tadinya dalam negeri hanya Rp6500 hingga saat ini mencapai harga Rp9.000an.  

Terkait kebijakan yang disiapkan pemerintah mengenai persoalan ini telah dibahas mengenai pengembangan kedelai. Khusus di Indonesia,  ada beberapa kebijakan yang mesti diperlukan. Pertama perluasan atau ekstensifikasi pertanian, jadi tidak ada jalan lain. Kemudian, pengembangan varietas-varietas unggul supaya menghasilkan produksi tinggi untuk disetiap titik lokasi.  

Dr Abd. Haris Bahrun selaku Ketua Prodi Agroteknologi Unhas mengatakan, budidaya kedelai tidak sama dengan komoditi lain seperti padi dan jagung. Kedelai spesifik lokasi, tidak semua lahan pertanian bisa ditanami kedelai. Harus dilihat dari segi iklimnya, jadi  tidak boleh juga terlalu banyak hujan. Perlu ada perhatian khusus. Sebab pada saat berbunga ketika ada hujan dan bunga tersebut akan gugur, sehingga tidak terjadi pembentukan polong. Pada masa kritis saat pembentukan polong tidak boleh kering.

Perlu infrastruktur untuk beberapa sentra di daerah dalam pengembangan kedelai, di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan.

Rendahnya produktivitas kedelai di Indonesia,  ditingkat petani hanya 1,2 ton per hektar hampir 1,5 ton bahkan ada yang satu ton per hektar, dengan biaya produksi yang cukup tinggi. “Harga, tidak ditangani dengan baik sehingga tidak ada minat masyarakat untuk mengembangkan. Misalnya harga Rp6.500 dengan produksi hanya 1,5 ton mungkin petani bisa untung sedikit. Namun, telah ada kesepakatan antara koperasi gapoktindo  dengan beberapa staekholder, disepakati untuk 2021 ini di harga Rp8.500,” ujarnya kepada readtimes.id Rabu, 17 Februari 2021.  

Dr Abd. Haris Bahrun menambahkan,  Kebutuhan kedelai Indonesia masih berharap dengan impor. Pasokan kedelai nasional diperkirakan aman untuk memenuhi kebutuhan kedelai rata-rata 2,5-2,6 juta ton pertahun. Namun, jumlah tersebut 90 persen dipenuhi oleh kedelai  impor dan 10 persen kedelai lokal.

Pemerintah  perlu mengucurkan kredit usaha tani (KUR) untuk petani kedelai dengan kebijakan bunga rendah. Sehingga petani kedelai bisa bersemangat untuk menanam. Varietas atau benih perlu dipikirkan pemerintah agar efisien dalam budidaya kedelai. Sebab benih kedelai mudah rusak dan hanya bertahan sampai dua bulan saja. Ketika sudah dipanen tidak sama dengan benih padi dan jagung yang bisa bertahan lebih lama. Kebijakan dengan perluasan benih.

Avatar

Ona Mariani

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: