RT - readtimes.id

Bayang-bayang Resesi Ekonomi Karena Pandemi

Readtimes.id – Pandemi virus corona berakibat pada krisis kesehatan dan ekonomi bangsa. Ekonomi  sebagai sentral utama yang terpenting, erat kaitannya dalam keseharian manusia, yaitu kebutuhan meliputi sandang, pangan, papan yang memerlukan suatu ekonomi yang kuat.

Pertumbuhan ekonomi sebuah negara yang baik jika dapat meningkatkan sebuah pembangunan nasional negaranya. Pandemi Covid-19 menjadi pusat perhatian  yang sangat besar bagi bangsa Indonesia bahkan dunia. Banyak kerugian yang ditimbulkan hingga berdampak pada perekonomian Indonesia.  

Benarkah kita sudah keluar dari jurang resesi?

Nasib ekonomi Indonesia bergantung pada capaian pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020. Sebab jika dua kali berturut-turut ekonomi mengalami kontraksi maka bisa dinyatakan Indonesia mengalami resesi.  

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II atau April-Juni 2020 diproyeksikan banyak pihak akan negatif dan berujung pada resesi. Pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada Dr. Eddy Junarsin pun memberikan sejumlah saran agar Indonesia bisa keluar dari bayang-bayang resesi.

Pertumbuhan ekonomi secara tahunan telah melewati titik terendah pada triwulan II-2020 yang anjlok drastis hingga -5,32%, yang membaik menjadi -3,49% pada triwulan III, dan diharapkan pada triwulan IV-2020 menjadi meningkat lagi di rentang -2% hingga -1%.

Dampak perekonomian yang ditimbulkan dari pandemi ini telah terjadi dibeberapa Negara secara signifikan. Negara yang terancam dalam bayang- bayang kehancuran akibat resesi pandemi ini meliputi, Negara Australia, Hong Kong, Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Thailand.  

Akibat PSBB semua kegiatan terpaksa terhenti, baik dibidang industri maupun perkantoran untuk sementara waktu terpaksa di berhentikan untuk beroperasi. Selain itu, sektor pendidikan, pelayanan publik, tempat beribadah, pusat perbelanjaan, rumah makan , dan tempat pariwisata juga mengalami hal yang sama.

Adapun dampak pada sektor ekonomi akibat masa pandemi covid-19 di Indonesia, antara lain, Pertama, terjadinya tindak PHK besar-besaran. hasil data yang di dapat yaitu lebih dari 1,5 juta pekerja di rumahkan dan di PHK-an yang mana hampir 90%  pekerja di rumahkan dan pekerja yang di PHK sebesar  10%.  

Kedua, terjadinya penurunan jumlah PMI Manufacturing Indonesia mencapai angka  45,3% pada Maret 2020, terjadinya punurunan impor sebesar  3,7% pada triwulan 1.

Ketiga, terjadinya inflasi yang telah mencapai  angka 2,96% yang telah disumbangkan dari jumlah harga emas serta komoditas pangan pada maret 2020.

Keempat, terjadinya pembatalan serta penundaan sejumlah penerbangan yang berdampak pada penurunan pendapatan di sektor aviasi. Kerugian yang dirasakan mencapai Rp. 207 miliar. Jumlah pembatalan penerbangan  sebanyak 12.703 dari 15 bandar udara pada periode bulan januari-maret 2020.

Kelima, pada 6 ribu hotel/penginapan  telah terjadi penurunan penempatan (okupansi) hingga mencapai  50%.   

Kementrian  ketenagakerjaan menyebutkan, banyaknya pekerja yang dirumahkan  serta  berbagai perusahaan  terancam bangkrut. Sebanyak 114.340 perusahaan telah melakukan PHK dan merumahkan tenaga kerja dengan total pekerja yang terkena telah mencapai angka  1.943.916 orang perusahan dengan persentase  77% sektor formal dan 23% di sektor informal.  

Akibat PSBB,  menunjukkan perbaikan bila disandingkan dengan data per April 2020 lalu. Sektor yang menunjukkan perbaikan adalah industri kimia, pertanian, keuangan, pertambangan, dan konsumer.  

Sehingga kebijakan strategis yang dilakukan oleh pemerintah, APBN di 2021 diarahkan untuk mendukung akselerasi pemulihan dan transformasi ekonomi, terutama melalui sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan infrastruktur ketahanan pangan, teknologi informasi, dan pariwisata.  

Strategi jangka menengah, jangka panjang yang tepat, sambil terus mengawal pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi.

Sektor yang paling terpukul akibat pandemi Covid-19 adalah transportasi dan pergudangan (minus 16-30%), akomodasi dan makanan minum (minus 12-22%), jasa lain nya & perusahaan (minus 5-12%), pengadaan listrik dan gas (minus 2-5%), konstruksi (minus 4-5%), perdagangan (minus 5-8%), industri (minus 4-6%), pertambangan (minus 3-4%).  

Kebijakan pemerintah untuk larangan mudik Lebaran, diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan lock down mandiri di berbagai daerah/kampung telah memukul sektor-sektor ini. Hampir semua pelaku sektor ini mengalami penurunan omzet penjualan dari 20% hingga 100%.

Tidak mengherankan terjadi kenaikan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pengurangan karyawan, dan meningkatnya pengangguran hing ga 9,7 juta orang atau 7,07% dari total angkatan kerja. Bauran kebijakan (policy mix) yang sinergis antara kebijakan mo neter dan fiskal telah terbukti membantu ekonomi Indonesia dalam menghadapi krisis Asia 1998 dan krisis global 2008, dan kini pandemi Covid-19. Tantangan ke depan makin berat.

Beberapa ekonom memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2021 bakal mengalami krisis. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya, seperti besarnya akumulasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), rapuhnya ketahanan fiskal, hingga daya beli masyarakat yang rendah. Namun Menteri Keuangan Sri Mulyani tetap optimis seiring dimulainya program vaksinasi massal dan upaya mencegah meluasnya perebakan Covid-19.

Ekonomi senior, Rizal Ramli memprediksi pada 2021 ekonomi Indonesia akan mengalami krisis yang jauh lebih serius dibandingkan dengan tahun lalu. Hal itu dikatakannya dalam sarasehan secara daring bertema “National Economic Outlook 2021”

Avatar

Ona Mariani

1 Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: