RT - readtimes.id

Petani Milenial, Menebar Harap di Tengah Cemas

Readtimes.id— Profesi petani masih sering dipandang sebelah mata oleh beberapa orang terutama kawula muda, padahal kehadiran petani penting bagi keberlangsungan kehidupan kita.

Gerakan petani milenial merupakan salah satu inovasi untuk menarik minat kaum muda usia 17-39 tahun untuk ikut bergelut pada aktivitas bertani yang lebih modern. Gerakan yang telah diinisiasi sejak 2017 ini memiliki program petani berdaya untuk memberdayakan para petani di pedesaan dan menjawab berbagai persoalan petani hari ini.

Ichi Indrawan, salah satu penggagas petani milenial di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan mengungkapkan ada beberapa persoalan pertanian yang akan mereka bantu penyelesaiannya. Seperti permasalahan modal usaha untuk kesiapan produksi dan menanam. Kedua adalah produktivitas yang masih rendah karena minim teknologi dan akses pasar atau rantai pasok yang terlalu panjang.

“Ini akan kami cari jalan keluarnya melalui pemberdayaan petani,” ungkapnya.

Menurutnya, petani hari ini perlu dibantu dan diedukasi agar lebih produktif. Ichi melihat tidak sedikit petani yang mengutang ke tengkulak untuk pemenuhan sarana produksi atau kesiapan menanam. Sehingga dengan berutang ke tengkulak akhirnya tidak ada pilihan lain bagi petani selain menjual hasil panen mereka pada tengkulak tersebut.

Selain edukasi terkait pemasaran, kehadiran petani milenial juga memberikan edukasi teknologi pertanian seperti teknologi pemilihan benih, pemupukan dan sebagainya yang dapat meningkatakan produktivitas lahan.

Selanjutnya petani milenial juga mencoba membantu memangkas rantai pasok petani yang terlalu panjang. Artinya, petani tidak lagi menjual hasil panennya pada tengkulak atau pengepul tingkat desa kemudian kecamatan dan kabupaten. Kehadiran petani milenial membantu petani langsung menjual hasil panennya ke gudang, sehingga petani mendapat harga yang layak.

Di masa pandemi ini, petani milenial juga berperan dalam pemenuhan pangan masyarakat. Mereka berinovasi menjual hasil tani secara online.

“Untuk mendukung pemenuhan pangan di masa pandemi ini kita melihat mobilitas masyarakat terbatas sehingga kita semua berinovasi dengan menjual hasil tani secara online. Jadi kami menggunakan sarana digital, contohnya beras sistem barcode atau beras Si Baco,” ungkapnya.

Milenial Jangan Minder jadi Petani

Generasi muda hari ini masih gengsi untuk menjadi petani, padahal jika mampu melihat peluang pada sektor ini, sebenarnya cukup menjanjikan. Buktinya di masa pandemi saja ketika sektor ekonomi dan usaha lainnya mengalami penurunan, sektor pertanian justru menunjukkan pertumbuhan yang positif di angka 16,4 persen.

Hal itu kemudian menjadi semangat bagi Ichi dan kawan-kawan yang tergabung dalam organisasi Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS) Bulukumba untuk lebih menarik generasi milenial bergelut pada sektor pertanian.

“Kami cari tahu apa yang menjadi menarik bagi mereka, ternyata angka rupiah di balik sektor pertanian yang cukup menjanjikan menjadi daya tarik kaum milenial. Makanya kami coba untuk mengedukasi potensi rupiah dibalik pertanian pada generasi milenial,” jelasnya.

Selain itu, beragam inovasi juga telah ia lakukan untuk membuat profesi petani ini tidak seruwet dan sesulit yang dibayangkan sebagian orang.

Misalnya pada peternak sapi, mereka melakukan inovasi fermentasi pakan sehingga peternak tidak harus merumput setiap hari. Kini mereka dapat memaksimalkan potensi pakan di alam kemudian melakuakn fermentasi pangan sehingga dalam sebulan mungkin petani atau peternak ini hanya mengambil pakan sebanyak dua hingga tiga kali saja.

Selanjutnya yang menjadi tantangan bagi mereka  adalah bagaimana mengajak organisasi kepemudaan bekerja sama dalam membangun program petani milenial ini, karena kebanyakan mindset organisasi kepemudaan itu berorientasi pada dunia politik.

Melihat hal tersebut YESS Bulukumba untuk saat ini fokus mengedukasi pemuda pedesaan yang minim akses informasi sehingga mereka dapat memanfaatkan lahan merka atau lahan keluarga yang masih telantar.

Dengan tagline “Membangunkan lahan tidur membangunkan pemuda tidur” mereka optimistis dapat mengajak lebih banyak pemuda untuk tidak lagi minder menjadi petani, tentunya dengan modernisasi dan digitalisasi sektor pertanian.

Kedepannya YESS Bulukumba bersama Kementerian Pertanian akan membentuk tenaga kerja muda kompeten dan wirausaha muda sektor pertanian yang menargetkan lima ribu petani milenial dalam beberapa tahun  ke depan. Anda tertarik?

Avatar

I Luh Devi Sania

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: