RT - readtimes.id

Hari Raya di Tengah Pandemi

Readtimes.id– Dua waktu sudah umat muslim merayakan Idul Adha di tengah pandemi Covid-19. Tak sama dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan yang sejatinya selalu jadi momen kumpul keluarga, kini harus ditunda dulu. Sebab hari ini berkumpul bersama bukanlah pilihan terbaik dalam memaknai Hari Raya Kurban dalam situasi pandemi.

Bagi mereka yang belum bisa berkumpul di rumah orang tua atau keluarga besar tentu merindukan tradisi lebaran di kampung halaman. Iring-iringan di malam takbiran yang menyemarakkan penyambutan hari raya esok. Anak-anak berkumpul membuat formasi, siap meledakkan petasan. Tak lupa omelan ibu-ibu kepada mereka yang dianggap mencipta keributan dan juga bahaya.

Keesokan harinya, selepas salat Ied dan bersalam-salaman saling memaafkan, langkah kaki menuntun ke tempat utama, yaitu meja makan. Untuk anak rantau dari kampung Bugis Makassar, sudah familiar dengan sajian ketupat, burasa, legese, kampalo serta olahan kari ayam, coto Makassar dan tentunya sop konro yang mampu meneteskan saliva.

Irisan ketupat, tatanan burasa ditambah deretan wadah berisikan olahan ayam dan daging sapi yang menggiurkan menjadi pelengkap hari raya di meja makan setiap keluarga. Tidak lupa menambahkan sambal serta perasan jeruk sehingga mencipta cita rasa khas kuliner negri Angin Mamiri.

Namun, reka adegan tadi tentu tidak semua dirasakan oleh kita. Situasi tidaklah mengizinkan kerinduan itu terbayarkan. Dan jika pemaknaan Hari Raya Kurban adalah perihal keikhlasan Ibrahim akan Ismail, maka hari ini kita meikhlaskan situasi.

Teknologi kini menjadi wadah kumpul keluarga serta kawan-kawan. Setidaknya itu adalah bentuk ikhlas atas kondisi hari ini. Tidak memaksakan kehendak juga bagian dari sebuah pengorbanan.

Dengan begitu, melalui Idul Adha kali ini, di tengah kondisi pandemi, sudah sepatutnya kita saling memaafkan. Kepada diri sendiri, kepada orang lain dan kepada situasi.

Sejarah Sajian Kuliner Lebaran

Ketupat adalah menu paling wajib di meja makan saat hari raya tiba. Ia memiliki maknanya tersendiri. Pada abad ke 15 saat kewalian Sunan Kalijaga, ketupat menjadi sebuah tradisi menu saat Lebaran. Ketupat berasal dari kata “ngaku lapak” atau mengakui kesalahan.

Berbeda dengan ketupat, sop konro juga memiliki kisahnya sendiri. Dijelaskan dalam Portal Informasi Indonesia, sop konro berawal dari daging kerbau, di mana saat ritual masyarakat akan memotong kerbau kemudian bagian tulang dimasak dengan bumbu sederhana. 

Awal tahun 90-an, masyarakat Makassar baru mempopulerkannya dengan daging sapi. Sebelumnya masyarakat lebih mengenal daging kerbau untuk diolah dalam bentuk makanan berkuah.

Saat Idul Kurban kerap kali ditemukan olahan konro di meja makan. Hasil dari kegiatan kurban yang kemudian diolah untuk selanjutnya dimakan bersama. Makan bersama akan mencipta kehangatan di setiap suapan.

Editor: Ramdha Mawaddha

Avatar

Ayu Ambarwati

Tambahkan Komentar

Follow Kami

Jangan biarkan infomasi penting dan mendalam dari kami terlewatkan! Ikuti sosmed kami: